Total Pageviews

Sunday, March 31, 2013

CANDIKALA - SENJA JINGGA




Sore dengan langit jingga selalu menjadi waktu kesukaanku. Saat langit berpendar dengan arakan awan berwarna merah keemasan dan pilar-pilar cahaya yang menembus kumpulan awan yang lebih tebal menghujam ke bawah lalu hilang membias sebelum menyentuh bumi, semuanya begitu menakjubkan. Dikejauhan, di sela-sela pegunungan yang menggelap sisi depannya, mentari sore bergerak perlahan begitu pelan menghilang keperaduannya, menyisakan cahaya jingga kemerahan yang mengintip malu-malu. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi memandang lukisan alam yang begitu menakjubkan ketika melintasi jalan di tengah areal persawahan ini begitu menenangkan, hatikupun terasa ringan melayang. Sejenak aku lupa dengan segala kegelisahan yang akhir-akhir ini begitu akrab dengan diriku.

Aku berdiri di bibir pembatas jalan, melayangkan pandanganku ke hamparan sawah yang ada di bawahku. Padi yang baru mulai tumbuh tampak menggelap, menampilkan ilusi danau beriak tertiup angin. Sore yang jingga, sore yang indah mulai menghilang, digantikan oleh pekatnya malam berangin semilir yang meniup kegelisahan kehatiku lagi. Aku pun beranjak pulang. Rumahku tak jauh dari tempatku sering menghabiskan sore, ‘jalan baru’ kami menyebutnya, walaupun jalan di tengah areal persawahan ini tak lagi baru, 5 tahun mungkin tak kurang usianya semenjak jalan ini diaspal dan menjadi akses alternatif menuju kota. Langkahku pulang diiringi suara adzan maghrib dari surau tua di dekat rumahku. Aku harus bergegas atau aku akan ketinggalan sholat maghrib berjamaah lagi. Aku tidak mau kuping bapakku panas mendengar bisik-bisik tetangga yang menggunjing tentang anak lelakinya yang tidak rajin ke surau, pulang main-main tidak penting dan lupa sholat. Tinggal di desa kecil di daerah pedalaman yang kultur budaya religiusnya begitu kental haruslah selalu sholat berjamaah di surau atau masjid, kalau tidak bersiaplah menjadi bahan gunjingan tetangga.

Aku berusia 16 tahun, tapi aku masih kelas 3 SMP padahal teman-temanku sudah kelas 1 SMA. Aku pernah tidak naik kelas waktu SD jadi aku tertinggal satu tingkat dari teman-temanku. Aku tidak pernah menyesali ketidaknaikkanku itu. Ibuku selalu bilang, aku tidak boleh terlalu menyesali sesuatu. Penyesalan selalu datang diakhir, jadi kata ibu, sebelum penyesalan itu datang aku harus berusaha keras dan berdoa kepada Allah agar segala sesuatunya dilancarkan. Akan tetapi jika kenyataan tidak seperti yang aku harapakan, itu bukan karena aku gagal tapi karena Allah punya rencana lain untukku. Jadi jangan pernah menyesal apa lagi menyerah. Itulah ibuku, perempuan sederhana yang berprinsip dan penyayang. Aku juga tak akan menyesal karena tertahan satu tahun di SD waktu itu. Aku tidak naik bukan karena aku bodoh tapi karena aku dulu sakit tifus sampai 2 bulan lalu guru kelas 3 ku tidak menaikkanku dengan alasan terlalu banyak pelajaran yang aku lewatkan.

Bapakku seorang petani. Beliau pendiam dan pemikir. Tak banyak yang bapak ucapkan jika memang tidak perlu tapi menurutku bapak kadang bicara banyak juga. Bapak bicara banyak atau bercerita hanya kepada orang yang beliau kenal baik, orang yang akan setia mendengarkannya tanpa banyak menimpali hal-hal yang tidak disukainya. Siapa lagi kalau bukan dengan ibuku. Aku tahu karena ibu sering memperingatkanku untuk tidak boros, untuk rajin sholat, belajar dan bergaul yang benar dan itu semua kata beliau adalah atas suruhan bapak. Bapak juga tidak marah-marah atau mengata-ngataiku dengan hal-hal yang buruk, tapi jika beliau sudah terlanjur emosi dan tak tahan maka beliau akan langsung bertindak. Aku masih ingat, waktu itu bapak melepaskan sandalnya dan melemparkannya kepada ku gara-gara beliau menyangka aku mengganggu adikku sampai menangis. Padahal adikku menangis gara-gara temanku yang menjahilinya. Aku lari ke tegalan di belakang rumah dan sampai takut mau pulang.  Sejak saat itu aku berjanji untuk tidak membuatnya marah. Meskipun saat itu ketika aku mengendap-endap pulang beliau telah menungguku di samping kamar mandi, tempat yang pasti akan aku tuju karena hari telah sore dan aku harus mandi. Bapak menungguku dan memandikanku. Aku tahu bapak menyesal telah melempariku dengan sandalnya walaupun tidak kudengar beliau meminta maaf padaku tapi aku tau dari sorot matanya ketika menungguku dan membelai kepalaku yang dikeramasinya dengan lembut. Aku masih ingat saja kejadian itu walau sudah lama berselang, ketika aku duduk dikelas 2 SD.

Bukankah tadi aku bilang kalau akhir-akhir ini aku gelisah? Aku ingin menceritakannya padamu. Aku juga akan memberitahu kalian kenapa aku suka menghabiskan waktu soreku di jalan baru tengah sawah itu.
***

Maya adalah teman sekelasku. Dia tinggal di lain desa dan aku hanya berjumpa denganya di sekolah. Maya duduk di depanku dengan Dika, bendahara kelas. Maya anaknya pemalu. Sering kali ketika guru kami memberinya pertanyaan dia menjawab tanpa berani menatap langsung sang guru. Begitu pula ketika teman-teman menggodanya, dia hanya tersipu, menahan senyumnya dan memerahlah pipinya. Berbeda dengan Dika yang lebih pemberani. Mungkin dia adalah siswa perempuan yang paling berani di kelasku. Dia tak segan memprotes guru yang sering terlambat bahkan menantang panco guru olah ragaku. Mereka begitu kontras.

Setiap hari aku melihat maya dari belakang. Aku senang melihat rambutnya yang bergelombang sebahu. Aku suka memandangi punggungnya, entahlah aku suka saja. Rambutnya harum dan pakaiannya segar, menghirupnya dari belakang ketika ada angin yang bertiup membuatku bersemangat belajar. Tapi aku paling suka ketika melihat dia tersenyum dan pipinya merona. Dia manis.

Tapi seminggu ini aku belum melihat dia tersenyum. Dia tampak lebih pendiam walaupun biasanyapun dia tidak banyak bicara. Tapi aku tahu dia murung. Aku bukan teman dekat Maya tapi karena aku selalu duduk di belakangnya maka aku tahu ada yang tidak biasa dengannya. Saat bel istirahat berbunyi anak-anak berhambur keluar. Membeli makanan ringan atau minuman di kantin adalah hiburan. Aku tidak punya banyak uang jajan. Kadang jika ibu punya uang lebih aku diberinya uang saku tapi jika tidak aku juga tidak meminta. Aku cukup sarapan saja di rumah. Biar Ijal, adikku yang mendapat uang saku. Hari ini ibu memberiku 500 rupiah. Aku sudah akan berjalan melewati pintu ketika aku menyadari hanya Maya yang tidak keluar kelas. Dia tampak malas memasukkan bukunya ke dalam tas, tatapannya kosong. Aku mengurungkan niatku. Aku berjalan kearah bangkunya dan bertanya, “Ada apa Ya? Kok sepertinya dari tadi diam saja. Sakit ya?” “Eeh.. Wan, aku tidak apa-apa. Malas saja rasanya.” “Kok tumben malas. Apa tidak ingat kata pak Agus, kelas tiga gak boleh malas ujian sudah dekat,” kataku tidak percaya mendengar jawaban Maya. “Itu dia. Andaikan saja ujian masih jauh... Kamu kalau mau beli makanan beli saja. Aku gak apa-apa kok.” “Iya. Kalau beneran tidak apa-apa ya sudah. Kalau perlu bantuan bilang saja jangan sungkan ya” Aku sebenarnya heran mendengar Maya berkata seperti itu. Tidak biasanya siswa sepintar seperti Maya mengeluh tentang ujian. Aku saja sudah tidak sabar untuk bisa sekolah di SMA, artinya aku bisa lebih sering pergi ke kota Kabupaten. Tapi entahlah, aku pergi keluar kelas ke perpustakaan sekolah.

Betapa rapuh hati ini saat melihat orang yang kita cintai sakit. Begitu pula dengan temanku yang manis, Maya. Ibunya sakit-sakitan sejak melahirkan adiknya dua tahun yang lalu. Aku tahu ibu Maya sakit karena aku melihat Maya, ibunya, ayahnya dan seorang lelaki naik sebuah mobil sedan berwarna biru telur bebek melintas di jalan baru ketika aku sedang duduk di pinggir sawah petang itu. Kira-kira dua minggu yang lalu. Mobil itu melintas cukup pelan karena memang aspal di jalan itu sudah tidak rata lagi. Aku melihat ibunya bersandar lemas di bahu suaminya dan Maya memijit lengan ibunya. Ketika aku tahu ada Maya di dalam mobil itu, aku berdiri agar bisa melihat siapa saja di sana. Aku sempat melihat maya memandangku tetapi ketika mobil itu semakin mendekati tempatku berdiri, Maya membuang mukanya dariku. Aku tidak tahu kenapa. Keesokan harinya, di sekolah aku bertanya kepadanya tentang apa yang kulihat kemarin sore. Benarkah itu dia. Maya menjawab benar. Mereka mengantar ibu ke Puskesmas untuk dirawat di sana. Kondisinya tiba-tiba drop setelah pulang dari ziarah Wali Songo. Aku juga bertanya siapa lelaki yang mengemudikan mobil itu tapi Maya tidak mau menjawab. Dia pergi dengan alasan ada keperluan dengan temannya di kelas lain.

Aku tidak pernah berpikir macam-macam tentang hal yang tidak jelas tapi kejadian sore itu mau tak mau membuatku penasaran juga. Itu adalah sore keempat setelah aku melihat Maya mengantarkan ibunya ke Puskesmas. Apalagi akhir-akhir ini ada yang berubah dari sikapnya. Sore itu, ketika aku sedang duduk di pinggir sawah seperti hari-hari biasa. Menatap langit sore yang jingga, mengingat kata-kata Bapak ketika aku masih kecil bahwa langit sore yang seperti ini namanya Candikolo. Aku juga tidak tahu apa maksud dari istilah itu tapi Bapak bilang pada saat langit sore jingga keemasan dan awan bercahaya, itu menandakan bahwa gerbang kerajaan langit sedang dibuka untuk mengizinkan para bidadari masuk kembali ke istana. Aku begitu tertarik dengan sepenggal cerita yang Bapakku biasa katakan ketika mengajakku duduk-duduk di teras depan rumah. Aku selalu ingin tahu di mana letak istana itu dan seperti apa bidadari itu tapi Bapak bilang itu mustahil karena jika kita berlama-lama melihat Candikolo sampai Adzan Maghrib berkumandang kita bisa diculik raksasa. Oleh karena itu sebelum gelap tiba kita harus segera pergi ke surau.

Ya, sore itu senja jingga, Candikolo sedang terpampang di langit Tuhan. Aku tidak mau melewatkannya maka aku pergi ke jalan baru untuk menikmati pemandangan itu. Selang lima belas menit aku duduk di pembatas jalan, aku melihat mobil sedan warna telur bebek itu lewat. Mobil itu berjalan perlahan kearah utara. Aku ingat itu adalah mobil yang membawa ibu Maya ke Puskesmas. Pandanganku kualihkan ke mobil itu. Aku melihat lelaki dewasa berusia sekitar 30 tahunan mengemudi dan seseorang lagi sedang duduk di kursi sebelahnya. Dia tidak memandang ke depan ataupun ke arahku. Seseorang itu sepertinya tidak ingin aku tahu siapa dirinya tapi aku tahu siapa dia. Dia adalah gadis berambut sebahu. Maya, siapa lagi.

Semakin hari aku semakin merasa suka dengan Maya. Mungkin aku sedang jatuh cinta tapi aku tidak mengatakannya. Bukan aku tidak berani tapi aku merasa ini adalah perasaan yang aneh tapi sekaligus menyenangkan. Aku tidak tahu harus berbuat apa setelah aku mengatakan kalau aku menyukainya. Yang aku tahu, jika seorang lelaki menyukai seorang perempuan maka tidak lama kemudian mereka akan menikah. Seperti Mas Ahmadi tetanggaku dan mbak Karmila dari desa sebelah. Aku tidak mungkin menikah setelah lulus SMP, aku ingin sekali bersekolah lagi. Tapi hari ini aku tidak bisa tinggal diam. Di kelas, wali kelasku memanggil Maya ke depan. Beliau bertanya dengan suara pelan ke Maya tapi aku bisa membaca dari bibirnya apa yang Ibu wali kelas tanyakan. Beliau menanyakan tentang uang LKS sebesar Rp. 105.000 yang rupanya belum dibayar oleh Maya padahal semua teman sekelas telah melunasinya. Maya tampak hanya tertunduk diam. Aku tidak tahu apa yang dia katakan karena dia berdiri membelakangiku.

Pada jam istirahat, ketika teman-teman yang lain pergi ke kantin aku berhenti di samping bangku Maya. “Kamu belum bayar uang LKS ya?” tanyaku. Dia tampak terkejut lalu berkata, “Iya belum, belum ada uang.” Aku agak heran dan tidak percaya mendengar jawaban itu. “Kamu kan tahu kalau akhir minggu ini adalah batas pembayarannya dan ini juga sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian akhir. Bagaimana nanti?” tanyaku kepada Maya. “Aku tahu Wan, besok aku bisa bayar kok. Hari ini hanya lupa tidak bawa saja.” “Apakah benar seperti itu? Jika kamu butuh bantuan mungkin aku bisa meminjamimu sedikit. Aku ada tabungan atau pinjam ibuku.” “Tidak, tidak Wan. Jangan, terima kasih. Kamu tidak perlu melakukan itu, aku sebenarnya ada uang kok.” Keherananku bertambah, “Lalu kenapa tidak segera kau bayar? Aku tidak percaya jika kamu lupa atau tidak punya uang atau ayahmu belum memberimu. Jika benar orang tuamu belum punya uang, paman atau saudaramu yang punya mobil itu pasti bisa meminjamimu kan?” aku tidak menyangka jika kalimat yang aku ucapkan tanpa pikir panjang ini akan membuat suasana berubah drastis. Aku melihat perubahan ekspresi di wajah Maya, dia tampak lebih tegang dan sedih. “Wan, itu bukan pamanku atau saudaraku,” kata Maya dengan suara bergetar. “Aku lebih suka tidak lulus dari pada harus meminta uang kepadanya.” Matanya sekarang berkaca-kaca dan aku jadi bingung. “Ada apa Ya? Lalu dia siapamu?” “Sudahlah Wan, aku tidak ingin membicarakannya.” “Tapi aku peduli denganmu May, aku tidak ingin kamu mendapat masalah sehingga kamu tidak lulus. Aku ingin bisa bersekolah lagi sama-sama kamu.” Maya memandangku dengan ekspresi terkejut tapi dia tidak berkata apa-apa. Beberapa teman masuk ke kelas membawa makanan dan minuman mereka, aku menghentikan percakapanku dengan Maya.

Sore itu tidak ada Candikolo, langit sore gelap karena mendung tebal. Aku tidak pergi ke jalan baru karena memang hujan tampaknya akan turun. Aku sedang membantu Ijal mengerjakan PR nya ketika ibu datang dan berkata, “Wan, anak perempuan Bu Aminah yang tinggal di desa sebelah itu teman satu sekolahmu ya?” “Anak Bu Aminah? Siapa ya Bu?” “Itu yang rumahnya dekat Balai Desa. Dia agak sering sakit-sakitan setelah melahirkan.” Aku ingat sekarang, “Oh, mungkin itu ibunya Maya. Iya anaknya teman sekelas Wawan. Ada apa Bu kok tiba-tiba bertanya tentang dia?” “Maya ya namanya,” ibuku bertanya tapi lebih ke dirinya sendiri, aku tidak perlu memberinya jawaban. “Anaknya cantik ya Wan?” Aku tertawa mendengar ibu yang tiba-tiba bertanya seperti itu. “Hmm ya cantik bu, manis. Memang kenapa bu? tanyaku lagi. “Ibu dengar dari ibu-ibu di Jamaah Yasinan, si Maya itu mau dinikahkan selepas lulus dari SMP ini.” Kata-kata ibu sangat mengejutkanku. Aku terbelalak tidak percaya mendengar apa yang ibu katakan. “Yang benar bu?” “Ibu juga kurang tahu, Wan. Kata ibu-ibu dia akan dilamar sama Deni anaknya Pak Abu pemilik toko bangunan di desa situ.” Percakapan kami terputus sampai disini karena kudengar suara Bapak memanggil Ibu dari dapur. Aku tiba-tiba merasa lemas. Perasaanku tidak enak sekali. Aku tidak tahu kenapa tapi hal ini kurasakan setelah aku mendengar bahwa Maya mau dinikahkan. Ada perasaan tidak rela yang sulit untuk aku jelaskan.

Hari ini Maya tidak masuk sekolah, di papan absensi tertulis izin. Aku jadi menduga-duga kalau acara lamaran itu berlangsung hari ini. Rasanya sungguh tidak adil bagi Maya dan akupun turut geram membayangkannya. Tapi siapa tahu, Maya juga menghendakinya. Sore ini aku membawa sepedaku ke jalan baru, ke tengah areal persawahan tempat aku biasanya menghabiskan sore. Aku mengayuh sepedaku cepat-cepat. Pukul setengah lima tapi hari sudah mulai gelap. Mungkin senja berwarna jingga akan muncul. Dari kejauhan aku melihat seseorang duduk di pembatas jalan yang bisanya aku gunakan untuk duduk. Aku penasaran siapa yang telah merebut tempat favoritku itu. Semakin dekat semakin jelas siapa yang terlihat disana. Gadis berambut sebahu dan sepeda jengki berwarna gelap. Jantungku berdegup kencang, mungkin karena aku terengah-engah mengayuh sepedaku terlalu kencang atau mungkin saja karena hal lain. “May, kenapa kamu ada disini?” Dia tersenyum sebentar lalu kembali memandang gunung di barat sana, ke semburat jingga keemasan yang mulai merebak. “Aku tahu sekarang kenapa kamu suka ada di sini hampir setiap sore Wan. Aku melihatmu beberapa kali ketika melewati tempat ini tapi kamu tidak mempedulikan jalanan yang ada di belakangmu. Sore di sini begitu indah.” “Iya aku suka melihat langit di sini. Candikolo itu selalu membuatku tertarik sejak aku masih kecil. Tapi kenapa kamu tumben kesini? Tadi pagi kamu juga tidak masuk sekolah.” Maya menjawab pertanyaanku tanpa memandangku, “Iya, aku juga ingin menikmati hari-hari terakhirku di SMP. Aku tahu tempat ini bagus jadi aku kesini.” Aku jarang sekali mendengar Maya berbicara sebanyak ini, dia biasanya pendiam. “Aku tidak masuk sekolah hari ini karena dilamar sopir sedan biru itu.” Kata-kata Maya begitu tajam. Suaranya terdengar menahan luapan emosi. Aku hanya diam. “Aku akan segera menikah Wan. Kamu tidak akan melihatku di SMA manapun. Menikah.” Suara Maya tidak setajam tadi, aku mendengar getaran di suara itu. Getaran kegetiran dan ketidakrelaan. “Kenapa Ya? Kamu tidak suka bersekolah? Itu juga alasanmu tidak segera membayar kan?” “Aku sangat ingin bersekolah Wan, tapi orang tuaku memintaku untuk berhenti sampai SMP saja. Tak baik menolak pinangan orang, itu kata mereka” kata Maya menahan tangis. “Kamu tidak bisa menolaknya?” tanyaku. “Aku sudah pernah menolaknya tapi Ibuku berkata ini adalah pemintaannya yang terakhir, Wan. Ibuku sakit-sakitan, beliau ingin melihatku berumah tangga sebelum Allah memanggilnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa mendengar Ibu berkata seperti itu. Bapakku pun setuju saja. Aku tidak punya pilihan lain.” Kami berdua berdiri terdiam. Memandang langit yang sekarang bercahaya keemasan dan awan yang merah kekuningan. Lalu aku memecah kesunyian itu, “Aku harus mengucapkan selamat atau apa ke kamu Ya? Jika saja aku sudah dewasa, aku ingin membantumu. Tapi sekarang ini akupun tak tahu harus berkata apa atau berbuat apa untuk membantumu. Itupun jika kamu benar-benar membutuhkan bantuan.” “Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, Wan. Aku bahagia sekali bisa berada di sini melihat pemandangan ini bersamamu. Ini cukup membantuku.”

Lalu suara sedan kecil warna biru telur bebek itu terdengar berhenti. Aku menoleh dan melihat lelaki itu keluar dari mobilnya. Dia memanggil Maya, setengah berteriak marah karena melihat calon istrinya bersama lelaki lain di pinggir sawah pada jam seperti ini. Maya berbalik, dia berjalan menuju ke sepedanya. Dinaikinya sepeda itu lalu dia beranjak. Aku masih mendengar dia berkata ‘terima kasih, Wan’ sesaat sebelum mobil itu mengiringinya. Aku kembali melihat ke langit di barat sana. Cahaya jingga mulai meredup menghilang dan bidadari telah pulang ke istananya. Aku mendengar sayup suara Adzan Maghrib dari surau dekat rumahku. Akupun harus pulang.

By Supra D’Ocean

Sunday, February 24, 2013

I'm alright. It just hurts every time I take a breath


Aku menertawakan cinta bukan karena dia lucu, tapi betapa cinta mampu menertawakan kita. Manusia yang terkena panah asmara hingga cinta berkobar di dadanya mampu berbuat apa saja. Menjadi pemberani, menjadi pemberontak, menjadi ceria, menjadi gila, menjadi hidup, menjadi mati ataupun menjadi konyol. Dan apa yang dilakukan cinta saat sang korban bergulung-gulung dalam kenikmatannya, lari pontang-panting mengejar cintanya atau duduk terpekur dalam tangis meratap akan nafas cintanya? TERTAWA. Apalagi? Kau pikir dia akan sedih atau bergembira menari-nari? Tidak, dia hanya tertawa saja. Dari pada cinta saja yang menertawakan kita, izinkan aku untuk menertawakan cinta juga. Mungkin lebih tepatnya si Cupid, dewa asmara. Tawaku mungkin tawa sinis. Biarlah. Kau yang bahagia karena cinta, berbahagialah. Kau yang menderita karena cinta, tertawalah bersamaku. Tapi jangan sangka aku juga sedang merana sepertimu. Aku menertawakan Cupid dan panah cintanya karena dirinya sendiri diciptakan buta dan tanpa kekasih. Saat dia mencoba memanah jantungnya agar cinta datang padanya, matilah dia. Tapi aku juga tidak yakin apa yang dirasakannya selama ini. Mungkinkah dia kesepian, atau mungkinkah dia bahagia karena melihat manusia bercinta. Tapi yang pasti dia juga sedih karena ada begitu banyak cinta yang kandas. Yang tak aku harapkan hanya satu. Cupid adalah dewa tanpa perasaan. Tapi mungkin saja kan… lalu yang berikut ini adalah cinta yang seperti apa. Cupid kah yang membuat cinta segi tiga, segi empat dan cinta terlarang? Lalu seseorang berkata, “cinta itu hanya hati saja yang bisa merasakan. Cinta itu buta. Cinta itu anugerah. Dan lain-lainnya.” Tak ada yang salah, siapapun berhak memaknai cinta mereka sendiri-sendiri tapi jangan sok tau dengan cinta orang lain.

Halooo….? Siapa Cupid? Siapa dewa cinta? Ada berapa Cupid? Jangan memikirkannya terlalu dalam. Aku tahu di agamaku tidak ada dewa dan aku tak tahu kamu percaya akan dia atau tidak. Sebenarnya aku hanya ingin tertawa saja. Aku heran, kenapa juga aku minta izin kalian untuk menertawakan cinta. Sebelum aku meneruskan cerita ini, jawab dulu satu pertanyaanku. Jika kamu menjawab iya, lanjutkanlah membaca. Jika tidak, aku tidak akan memaksa.
Apakah kamu mencintaiku?
Lalu aku tertawa berderai-derai menertawakan pikiranku yang kacau. Baiklah aku mulai saja.


           
             Cinta pertama Intan datang saat dia duduk di kelas dua SMP. Saat itu dia merasakan degup aneh di dadanya. Duduk di kelas yang sama dengan Satria, melihatnya bercanda, tertawa dengan teman-temannya atau melirik dia saat serius belajar adalah sebuah debar menyenangkan. Intan tidak tahu harus menyebut apa perasaan itu. Dia hanya menikmati setiap saat menatap Satria bergerak memenuhi relung-relung hatinya hanya karena kejadian-kejadian kecil di kelas atau di sekolah.
            Suatu hari, Pak Sujito, guru Bahasa Inggris Intan meminta murid-muridnya untuk membentuk kelompok. Setiap siswa bisa memilih kelompoknya sendiri asal tidak lebih dari 4 orang. Intan bukan siswa yang akan bergerak cepat memilih teman kelompoknya. Dia akan duduk dan ikut teman sebangkunya, Ambar, dimanapun dia akan membentuk kelompok. Tapi tidak untuk hari itu. Ambar telah bergabung dengan teman-teman yang lain dan tidak ada lagi kursi untuknya. Kelas hanya menyisakan Intan dan Putri, siswa tanpa kelompok. Tanpa diduga-duga Pak Sujito berkata, “Intan dan Putri silakan pilih untuk bergabung dengan kelompok Arga atau Dewi. Tidak masalah ada dua kelompok dengan lima anggota.” “Arga atau Dewi,” batin Intan. “Di kelompok Dewi sudah ada 4 siswa dan mereka adalah siswa-siswa yang rajin dan pandai, pasti akan sangat menguntungkan jika bergabung dengan mereka. Tapi di tempat lain, di kelompok Arga, ada Satria yang sedang tersenyum manis sekali, betapa senangnya hati ini bila bisa menatap dia dari dekat,” Intan berkata pada dirinya sendiri dalam diam. “Mana yang harus ku pilih? Kelompok Dewi yang pandai atau dekat Satria yang membuatku berdebar-debar. Aku mungkin akan mendapat nilai bagus jika bekerja kelompok dengan Dewi, Sinta, Ardi dan Joni tapi ini kan kesempatan langka bisa duduk dengan Satria yang mungkin hanya sepersekian ratus bisa terjadi lagi,” batin Intan terus menimbang. “Baiklah aku memilih Satria saja.” Tapi Putri telah duduk diantara Rani dan Satria. Terlambat. Intan tidak sedih akan hal itu, dia hanya tersenyum, menertawakan pikirannya yang konyol beberapa waktu yang lalu.
            Perasaan itu tidak berkurang sedikitpun, Intan hanya butuh melihat dan ada di sekitar orang yang dia sukai untuk membuatnya bahagia. Perasaan yang begitu sederhana untuk seorang gadis remaja. Hingga akhirnya, dekat saja tidak cukup untuk Intan. Hingga dekat saja mampu membuat matanya kabur akan tangis. Saat itu adalah saat mereka kelas 3 dan Satria telah mempunyai Dini sebagai orang yang mampu membuatnya bahagia. Kata olok-olokan teman, mereka resmi pacaran.
            Mungkin Cupid memanah jantung Intan dengan mata panah dari jantung Satria tapi Cupid tidak memanah Satria dengan anak panah dari jantungnya. Panah Dini telah menancap di dada Satria dan Cupid memanah Dini juga, meninggalkan Intan dengan segunung perasaan getir. Getir adalah kata yang tepat untuk 1 ton cemburu yang diredam dengan sepotong senyum penghibur lara. Intan menghabiskan satu tahun terakhirnya di bangku lanjutan pertama itu dengan segunung kegetiran dalam hatinya.
            Hingga kelulusan sekolah tiba Intan masih menyimpan rasa itu sendiri. Dia mungkin tidak berharap banyak tapi apa daya ketika senyum dan tawa Satria masih tetap membuatnya bergetar. Bukankah dari awal memang hanya itu saja yang membuat Intan bahagia. Dia menolak mengatakan dirinya jatuh cinta waktu itu. Tuhan mungkin sedang menggodanya, melihat namanya ada di bawah peringkat kelulusan Satria benar-benar membuat Intan meledak dalam kesenangan aneh. Satria nomor 10 dan dia berada di peringkat 11 sekolah. Meninggalkan Dini di nomor 20 adalah anugerah yang pantas dia dapat karena telah begitu sabar menghadapi semua perasaan tak terungkapnya. Mungkin saja ini yang namanya pembalasan rasa akan kekalahannya terhadap Dini. Dia puas dengan alasan yang tidak begitu jelas tapi dia cukup senang. “Tan, kamu rangking 11, aku 1 poin di atasmu haha. Tapi selamat ya. Kamu memang selalu dekat-dekat dengan rangking ku dari dulu,” tanpa diduga Satria berkata seperti itu pada Intan. Dalam himpitan siswa yang saling berjejal membaca pengumuman, Intan merasa tangannya diraih dan ditarik seseorang. “Sudah lihatkan? Ayo minggir saja dari pada kegencet teman-teman,” orang itu adalah Satria lagi. Apa ini? Kenapa Intan begitu senang. Karena peringkat kelulusannya atau karena tiba-tiba Satria begitu dekat dengannya. Intan hanya bilang, “Selamat Sat. Kita sudah lulus.” Kita? Kita? Kita ….. “Hai Din, 20 besar gak buruk. Selamat ya kita lulus. Kita jadikan ke SMA 1?” suara Satria memecah euphoria kurang ajar dalam pikiran intan. Dia mendengar kata ‘kita’ dari mulut Satria tapi itu bukan Satria dan Intan, itu Satria dan Dini. Intan menjauh dan bergabung dengan teman-temannya yang lain. Dia tidak pantas menangis cemburu melihat dan mendengar Satria membuat rencana masa depannya dengan Dini. Hari ini terlalu berharga untuk sebuah pikiran yang bodoh apa lagi menangis konyol. “SMA 1. Aku juga akan kesana.”
            Waktu, tempat dan orang bisa berubah dan pasti akan berubah tapi perasaan Intan tentang sosok Satria belum juga berubah. Waktu telah membawanya setahun lebih tua, dan tempat telah memisahkan jarak kursinya beberapa puluh meter dari Satria. Selain itu, Novan juga telah menemaninya selama setahun belakangan. Novan yang senyumnya tidak semanis senyum Satria, Novan yang sikapnya tak selembut sikap Satria, Novan yang tak sepintar Satria. Tapi dia adalah Novan yang terus keras kepala untuk mendekatinya meski Intan tak acuh padanya. Novan yang mengajak Intan melihat dunia baru dan Novan yang akhirnya menjadi kekasih Intan tanpa tahu bagaimanan sejatinya perasaan Intan padanya. Mungkin kali ini Cupid hanya memanah jantung Novan. Cupid yang semakin lama semakin terbukti tak berperasaan.
            Dunia ini adalah tempat dimana dunia-dunia lain berada. Di dunia ini ada dunia percintaan yang begitu sulit dipahami. Di dunia ini juga ada dunia mistis yang begitu misterius. Dan di dunia ini ada dunia Intan dan Novan serta dunia khayal Intan dan Satria. Dunia Intan dan Novan adalah dunia cinta palsu yang dipertahankan. Cinta palsu yang suatu saat mungkin juga akan berubah menjadi cinta yang sebenarnya.
            Novan adalah lelaki yang sangat menyukai dunia tari Jaranan atau sering disebut Kuda Lumping. Tari yang mempunyai aura mistis di tiap gerakannya dan ritual-ritualnya. Entah bagaimana awalnya, Intan pun ikut serta di dalamnya. Dia menjadi salah satu penari kuda lumping di ekskul sekolahnya. Intan tidak menyadari bahwa keikut sertaanya di ekskul tari ini akan merubah sesuatu dalam sejarah hidupnya. Dia selalu datang dan berlatih bersama Novan di sekolah. Novan sendiri adalah sosok yang begitu serius di bidang ini. Novan adalah ketua kuda lumping di sekolah mereka. Kecintaannya akan kuda lumping membawanya menjadi penari yang handal yang mampu menebar pesona mistis pada para penontonnya, tak terkecuali Dini. Dini sering mengajak Satria untuk bergabung dengan kelompok tari ini tapi dia menolak. Satria hanya mengantar Dini melihat latihan tari anak-anak ekskul kuda lumping. Di antara penari-penari itu ada Intan yang gerakannya semakin hari semakin seperti penari yang kerasukan. Hingga suatu hari hal yang tak terduga terjadi.
            Hari itu adalah Jumat sore. Anak-anak ekskul kuda lumping mulai berlatih pada pukul 3. Novan, Intan dan yang lainnya telah bersiap untuk latihan sore itu. Sebuah lomba Jaranan tingkat kabupaten akan diadakan bulan depan. Mereka akan tampil mewakili sekolah mereka, unjuk kebolehan untuk suatu predikat grup Jaranan terbaik tingkat kabupaten kota. Latihan telah berlangsung selama setengah jam ketika Intan melihat Satria datang bergandengan tangan dengan Dini. Satria tampak begitu bahagia, dia tertawa dan sesekali mengangguk-angguk. Dini juga tampak bahagia. Dia tersenyum manis, tangannya menggenggam erat tangan kekasihnya. Intan ingat bagaimana rasanya ketika setahun lalu Satria mengandeng tangannya dan menariknya keluar dari kerumunan anak-anak SMP. Tangan yang hangat, tangan yang mampu membuat Intan merinding tak mampu berkata-kata. Perasaan yang terlalu berlebihan untuk sebuah sentuhan yang sangat singkat waktu itu. “Tan, yang serius dong. Kok tiba-tiba gak konsen? Kamu capek ya?” pertanyaan Novan membawanya kembali ke dunia nyata. “Eh.. eh.. enggak. Maaf ya. Cuma kepikiran sesuatu saja.” “Kalau tidak enak badan bilang ya. Kamu bisa istirahat dulu hari ini.” “Aku tidak apa-apa. Mari kita lanjutkan lagi,” Intan menenangkan Novan.
            Intan memang kembali menari tetapi sudut matanya tak pernah lepas dari Satria dan Dini. Perasaan cemburu tiba-tiba muncul di hatinya. Kemarahan mulai menguasai tiap gerakannya. Suara gamelan yang ditabuh untuk mengiringi tarian mereka terasa menghentak-hentak di dalam kepala dan dadanya. Lalu kejadian itu membuat kesadarannya hilang. Saat Dini memandang kearah lain, Satria meletakkan ujung jarinya di dekat pipi Dini lalu dia memanggil gadis itu. Dini menoleh dan telunjuk Satria menekan pipi Dini. Dini berteriak kecil lalu pura-pura marah memukul-mukul tangan Satria. Lalu Satria merangkul Dini menenangkannya. Hal itu seakan menyulut sumbu cemburu dan sakit hati di diri Intan. Perasaan sakit dan marah yang mengiris-iris hatinya membuat matanya mendelik lalu hawa panas itu merasuk lewat telinganya. Sesaat setelah itu dia telah menjerit, “Aaaaaa aaaa arrgh… ha ha ha.” Intan kesurupan.
            Intan roboh di tanah berumput. Tangannya menegang, jari-jarinya melengkung seperti cakar binatang buas. Matanya melotot dan dadanya naik turun seperti orang sesak napas. Novan segera berlari menghampirinya. Baginya, hal seperti ini bukan hal yang baru di kesenian tari kuda lumpingnya. Tetapi apa yang dialami intan berbeda. Biasanya yang kerasukan saat menari akan tetap menari bahkan gerakannya akan semakin menghebat, tapi tidak dengan Intan. Dia roboh dengan kondisi yang memilukan. Dia seperti mau menangis tapi dia juga mengeluarkan suara geraman orang yang marah. Suasana menjadi kacau. Satria kaget sekali melihat Intan yang begitu berbeda. Dia memang tidak suka melihat teman perempuannya itu ikut ekskul ini. Tapi demi Dini yang begitu tertarik dengan tari Jaranan, dia rela menemaninya melihat latihan-latihan mereka. Dini ketakutan. Dia mencengkeram lengan Satria.
            Novan dan guru tari mereka mencoba mengangkat Intan ke tempat yang lebih teduh tapi Intan berontak. Kekuatannya seolah-olah telah bertambah berlipat-lipat. Mereka tidak mampu mengangkat Intan. Satria dan Dini berjalan mendekat untuk melihat keadaan Intan. Mereka berdua tampak tegang dan was-was. Melihat Intan yang nafasnya semakin tersengal-sengal dan tangannya yang terentang kaku membuat Satria khawatir akan keselamatan temannya itu. Lalu tiba-tiba intan memandangnya. Lalu kearah Dini. Dini menjerit ketika matanya saling bertemu dengan Intan. Tanpa diduga, Intan bangkit lalu menerjang kearah Dini. Satria menghalangi dengan tubuhnya. Intan tetap menerjang, dia merangkul tubuh Satria dari depan dan mencengkeram badan Dini yang berada di belakang. Satria yang berada diantara dua gadis ini kebingungan. Dia memegang bahu Intan lalu mengguncangnya, “Tan, Intan, sadar Tan. Sadar Tan. Kamu menakutiku. Kenapa Tan? Jangan sakiti Dini.”
            Dini yang dicengkeram Intan dari balik tubuh Satria tiba-tiba lemas. Dia roboh. Matanya melotot, tangannya terentang dengan jari-jari melengkung seperti cakar. Dini kerasukan. Novan mendekati Dini. Dia memegang tangan Dini, meluruskannya dan melemaskan jari-jari Dini yang melengkung. Dirapalnya mantra khusus untuk mengusir setan yang merasuk ke dalam tubuh Dini, dibisikkannya mantra itu ke telinga Dini lalu ditekan telapak tangannya. Novan melakukan gerakkan seolah-olah menarik sesuatu dari tangan tersebut tapi lagi-lagi hal aneh terjadi. Novan terlempar ke belakang, sebuah kekuatan yang tak terlihat mendorong tubuh Novan menjauh dari Dini dan Intan.
            Di samping Dini, Satria masih dicengkeram oleh Intan. Tubuh kaku intan seolah-olah enggan lepas dari tubuh Satria. Pemandangan itu sangat kontras dengan keadaan sekitarnya jika dilihat dari jarak agak jauh. Orang-orang akan mengira bahwa Intan sedang menangis dalam pelukan Satria. Tapi memang itulah yang terjadi saat ini. Perlahan tubuh Intan melemas, dia melepas pelukannya pada Satria lalu dia terduduk lemas. Satria merebahakan Intan ke tanah. Intan masih tak sadarkan diri, matanya setengah terbuka setengah terpejam dan nafasnya kembali sesak. Paru-parunya tampak kesulitan menyedot udara sehingga tiap kali dia menarik nafas dadanya terangkat. Keadaan Dini tidak lebih baik, dia juga tampak sesak dan tubuhnya mengejang. Satria benar-benar tak berdaya melihat kekasih dan temannya ini tampak begitu menderita. Untungnya guru tari yang dibantu tetua desa yang tinggal dekat sekolah akhirnya mampu menyadarkan mereka berdua.
            Intan dan Dini terbaring di ranjang UKS, mereka tertidur karena lemas. Satria dan Novan duduk di samping ranjang mereka. Beberapa menit kemudian Intan siuman. “Tan, bagaimana keadaanmu?” Novan bertanya sambil memegang tangan Intan. Intan tak menjawab dan dia menarik tangannya dari  genggaman Novan. Intan membuang mukanya ke samping dan dilihatnya Satria duduk disana membelakanginya. Intan menggerakkan tangan kirinya lalu menyentuh punggung Satria. Dia menoleh, “Kamu sudah sadar Tan? Kamu sudah tidak apa-apakan?” Sebuah senyum manis yang selalu Intan impikan sekarang ada di depannya. Intan berkata dengan lemah, “Maafkan aku Sat, maafkan aku. Aku telah menyakiti kamu dan Dini.” Kini air mata mulai merebak di matanya. Novan yang merasa bingung dan tidak dipedulikan hanya diam memandang Intan dan Satria. “Ya aku tahu Tan, kamu kan tadi tidak sadar. Tapi kenapa kamu bilang seperti ini?” “Aku masih setengah sadar Sat. aku bisa mendengar kamu berteriak padaku tadi. Aku tidak sanggup melihat kalian tadi. Maafkan aku.” Tangis Intan semakin menjadi-jadi. Novan memegang bahu Intan, “Sudah Tan, mari aku antar kamu pulang saja.” “Tidak Van. Tidak,” kata Intan. Satria yang tidak mengerti maksud perkataan Intan tadi kini bertanya, “Apa maksudmu Tan? Kenapa kamu tidak sanggup melihatku? Kalau aku ada salah tolong katakan padaku biar aku bisa meminta maaf kepadamu.” “Tidak Sat, bukan aku tidak tahan melihatmu tapi aku tidak bisa melihat kamu dan Dini begitu dekat, begitu bahagia. Maafkan aku Sat, aku memang tidak berhak berbuat begini tapi aku menyukaimu sejak kita menjadi teman sekelas dahulu.” Satria terkejut bukan main mendengar pengakuan Intan. Novan tak kalah terkejut. Dia merasa tak mendapat tempat di hati Intan. Mungkin selama ini dia memang telah memaksa Intan untuk menjadi kekasihnya tetapi kejadian ini juga memukul harga dirinya. “Tan kamu.. kamu selama ini tidak menganggapku sebagai ..” kalimat Novan terpotong oleh suara tangis Intan yang semakin keras. “Maafkan aku Van, aku tidak bisa,” suara Intan terpotong-potong karena tangisnya mencoba menjawab pertanyaan Novan. Lalu Satria berkata, “Tan, aku tidak pernah tahu kamu mempunyai perasaan seperti itu kepadaku. Tapi aku sudah ada Dini dan kamu ada Novan. Ini semua tidak benar-benar terjadi kan?” Novan berdiri dan berjalan keluar UKS. Dia merasa seperti makhluk paling tak berguna saat itu. “Aku tahu Sat, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku” kata Intan. “Coba aku tahu hal ini dari dulu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Mungkin aku bisa menjaga perasaanmu.” “Jadi kamu memang tidak punya perasaan apa-apa kepadaku ya Sat?” kata Intan. Dia sudah lupa akan perasaan malu atau apapun itu. Semua sudah terlanjur terjadi dan dia ingin Satria tahu bagaimana perasaannya meskipun itu berarti melukai Novan ataupun Dini. “Tan, aku.. aku selalu menganggapmu sebagai temanku yang pintar dan manis,” kata Satria sambil menggenggam tangan Intan untuk menguatkan. “Kamu cantik Tan, kenapa kamu harus selalu melihatku selama ini. Ada banyak cowok yang baik dan menyukai kamu. Itu pasti. Bukan aku tidak menyukaimu Tan tapi kamu tahukan hidupku yang sekarang bukan hanya milikku sendiri, sudah ada Dini yang harus aku sayangi karena dia juga menyayangiku. Maafkan aku, Tan. Aku tidak bisa.” “Iya sat.”
            Air mata baru meleleh panas di pipi Intan yang sudah basah. Dia melihat lagi punggung Satria. Lelaki itu membantu Dini bangun. Lelaki yang dia sukai sejak tiga tahun lalu itu berdiri menuntun kekasihnya keluar. Intan bangun dari tempat tidur kecil itu. Disentuhnya dada dimana tempat jantungnya berdetak. Sambil meringis kesakitan, digenggamnya erat-erat benda itu. Dengan sekuat tenaga dicabutnya benda tersebut keluar dari jantungnya lalu dia lemparkan ke lantai. Anak panah Cupid bermata hati itu kini perlahan-lahan hilang memudar dari pandangannya. “Aku salah jika terus mencintaimu.”

Supra D’ocean (24 Pebruari 2013)
           
           
           

Kamu


Aku tak peduli tentang kata orang yang selalu memandangmu sebelah mata dan sosok yang tak berguna, bagiku kamu adalah sosok yang memiliki cinta tulus.
Kamu yang selalu menungguku disaat seharian letih mencari uang, menyambutku dengan sentuhan halus, seraya bertanya “kemana saja kau seharian? Aku merindukanmu”. Tak ada yang lebih membahagiakan dibanding itu semua. Aku merasa dirindukan.
Kamu adalah sosok yang selalu menghadirkan tawa disetiap gerakmu. Aku masih ingat ketika kau menyandarkan kepalamu di pangkuanku, kau tak pernah rela membagi pangkuanku dengan siapapun, dan selalu berkata kepada yang sengaja mendekatiku “dia milikku !” bentakmu. Aku merasa dipertahankan.
Kamu selalu mengajakku berbicara dalam diammu, tapi maaf, aku tak mampu, aku tak cukup mengerti dengan sikapmu, yang aku tau kamu selalu mendengarkan keluh kesahku, yang rela aku jadikan sasaran rasa amarahku. Aku bersalah padamu.
Aku tak pernah menginginkanmu pergi sedikit saja dari hidupku. Kamu tak berhak pergi sedikitpun. Kamu milikku seutuhnya. Tak ada yang menyayangimu melebihi rasa sayangku padamu. Tak ada yang layak memilikimu kecuali aku. Entah berapa kali orang menghujatmu, aku tak peduli, dan akan mati-matian membelamu di depan mereka.
Aku selalu menunggumu pulang kemanapun kamu pergi, sejauh apapun itu. Bahkan, aku rela jika kau membagi cinta dengan kekasihmu, kamu berhak mencintai kekasihmu, tapi kamu milikku. Ketika kau pergi, hal bodoh yang aku lakukan seharian hanya memanggil namamu dan menyiapkan makan malammu. Meskipun aku tau, kamu tak pulang malam itu.
Aku suka mengusap lembut perutmu sehabis makan, kamu terlihat berisi dan tampan, tersenyum dan mengerlingkan mata padaku, aku tau, kau tak sanggup berbicara padaku selain “terima kasih dan aku sayang kamu”
Hal yang sangat aku suka ketika hujan turun, kamu selalu tidur di sampingku, memintaku memelukmu erat. Akupun melakukannya, kusandarkan kepalamu diperutku sambil mengelus lembut rambutmu dan kaupun tertidur, aku suka mengabadikan foto kita berdua saat bersama seperti ini.
Mungkin aku terlalu menyayangimu, dan sangat terluka saat aku tau kau mencoba mengakhiri hidupmu. Entah apa yang kau pikirkan saat itu. Bukankah kau selalu bahagia disampingku ? Bukankah aku selalu memberikan apa yang kamu inginkan meskipun aku harus berjuang? Bukankah  aku  tempat pemberhentianmu ketika kau lelah berkelana menjelajahi cinta? Entahlah... yang jelas aku kecewa saat tadi pagi ada orang berteriak memanggilmu “ Puss !! minggir puss!! Jangan ditengah jalan! Dasar kucing nakal!” dan mereka mengatakan padaku kamu terlihat linglung waktu itu.

Story written by Hyokbek (sweet girl called Nira)
Contact her by Twitter @septinira or Google+ +septinira wijayanti 

Sunday, February 3, 2013

Tempat baru yang kamu kunjungi mungkin saja menyimpan misteri. Rahasia yang tersimpan oleh waktu dan tak terungkap oleh cerita bisa saja memberi tahumu dengan cara mereka sendiri. Dua kisah yang dituturkan oleh gadis ini mungkin tak seberapa membuatmu ngeri. Dia memang tidak bermaksud menakuti-nakutimu, dia hanya mau berpesan ‘saat kamu duduk dan membaca cerita ini meskipun itu di kamarmu yang nyaman, makhluk halus itu bisa saja ada di sampingmu atau di bawah ranjangmu sejak puluhan atau ratusan tahun yang lalu.’

Kelindih
Namaku Arin, aku mahasisiwi semester  tiga di sebuah perguruan tinggi di kota kecil Trenggalek. Kali ini aku akan bercerita mengenai pengalaman pribadiku bersentuhan dengan dunia lain dan aku berharap hanya sekali saja, tak mau ada kisah-kisah selanjutnya karena memang aku seorang penakut.
Kisah ini aku alami pertengahan Desember  2012, waktu itu kampus tempatku berkuliah mengadakan English Weekend Camp yang bertempat di Yonif 511 Blitar. Kami diwajibkan untuk mengikuti acara tersebut selama tiga hari berturut-turut dan jika kami tidak mengikuti dengan alasan yang tidak tepat, tahun berikutnya diwajibkan untuk ikut. Aku adalah orang yang paling malas dengan kegiatan yang mengharuskan pergi keluar rumah dan menginap, tapi karena tugas dari kampus, akhirnya aku berangkat juga.
Aku bersama rombongan berangkat dari kampus pukul 9 pagi, hari itu suasana langit sangat cerah, kami naik bus sewaan yang sialnya bus tersebut ber AC, karena aku orang yang paling alergi dengan AC. Aku duduk bersebelahan dengan Asha, teman baikku. Perjalanan pun menyenangkan karena di bus kami semua bernyanyi mengikuti alunan lagu yang di putar di dalam bus. Pukul 12 bus kami memasuki wilayah Yonif 511, kesan pertama pada markas TNI tersebut sangat sepi, luas, dan terlihat symbol setiap barak di sana sini.
Turun dari bus kami disuguhi dengan tembakan-tembakan di dalam tanah oleh para tentara, kami yang masih lelah dengan perjalanan cukup shock  dengan tembakan-tembakan tersebut. Kami mengikuti English Weekend Camp memang untuk melatih kedisiplinan, kebersamaan, dan Yonif 511 lah tempat yang tepat, bagi para pelatih, sepertinya tidak bagi kami.
Hari pertama di Yonif kami diberi acara-acara yang cukup padat, sehingga malamnya kami sangat kelelahan. Sore harinya saat akan mandi aku baru tersadar kalau aku sedang “dapet”. Uh.. pasti bakalan risih dan ribet, tapi tak apalah ini memang sudah menjadi kewajiban seorang wanita setiap bulan.
Pukul 10 malam kami baru bisa beranjak tidur, kami tidur beralaskan tikar, tak ada bantal dan selimut hangat seperti di rumah. Anak mama pada nangis darah mungkin, termasuk aku. Bagaimana tidak ? Kami hanya diberi barak yang usang dan tua, yang terletak paling ujung dan berdekatan dengan area persawahan. Barak tersebut sepertinya barak yang tak lagi ditempati.  Jendela barak juga sudah banyak yang rusak, ada beberapa jendela yang tak nampak kaca penutupnya, otomatis hembusan angin dari luar leluasa masuk ke barak kami. Pertama kali datang aku mengucapakan salam, bapakku selalu berpesan agar aku selalu meminta izin kepada si mbaurekso jika akan melakukan aktivitas di tempat baru. Aku masuk, dan segera mencari tempat yang agak jauh dari pintu masuk. Aku mendapat tempat tepat ditengah-tengah. Malam itu dingin, badan terasa pegal, aku menarik selimut tipisku, aku tidur di samping sahabat baikku Asha. Tak berapa lama Asha sudah terpejam, dan lelap. Akupun berusaha memejamkan mata meskipun tak bisa. Aku orang yang paranoid dengan tempat-tempat baru. Aku melihat jam di layar handphone ku, pukul 10 : 30, Astagfirullah, aku belum bisa terpejam juga, padahal esok subuh harus apel pagi di lapangan Yonif, aku iseng sms ibu sambil menunggu rasa kantuk datang, tapi rasa kantuk itu tak datang juga. Aku melihat teman-teman yang lain juga sudah lelap. Akhirnya aku bisa tidur, tapi.. itu hanya beberapa menit. Karena tiba-tiba tubuhku seperti ditindih sesuatu yang berat, iya aku tidak bisa bergerak.. aku berkata dalam hati, Tuhan ada apa ini??? Aku membaca do’a-do’a sebisaku dalam hati karena mulut, kaki dan tanganku tak bisa bergerak. Aku meraih tangan Asha, tapi tak mampu. Seketika aku ingat dengan pesan bapak, keadaan seperti itu biasanya di tempatku tinggal disebut “kelindih” entah mitos atau bukan kelindih itu berarti ada makhluk halus yang membatasi gerak seseorang. Aku tak punya keahlian melihat setan atau sejenisnya, tapi terkadang aku mampu merasakan keberadaan mereka. Saat doa- doa selesai aku baca, akhirnya aku bisa bergerak, dan sialnya rasa kantukku seketika lenyap. Aku mengirim pesan melalui ponsel pada ibu, aku bercerita pada beliau kalau aku baru saja kelindih. Tapi ternyata sampai pukul 12 malam tak ada balasan. Rasanya aku ingin menangis. Diantara rasa lelah, risih dan takut, aku memegangi tangan Asha, untuk mengurangi sedikit ketakutanku. Benar saja,tak selang berapa lama aku bisa memejamkan mataku. Kesialan terulang, baru sekitar 10 menit aku tidur, tiba-tiba aku terbangun lagi dan aku merasakan lagi tubuhku tak bisa aku gerakkan lagi. Ya Allah.. apa salahku ditempat baru ini.. pekikku dalam hati. Dengan perasaan takut aku membaca do’a-do’a lagi. Alhamdulillah aku bisa bergerak. Aku segera mengirim sms pada salah satu dosen, beliau sangat baik, apa saja yang menjadi keluhan anak-anak disetiap mata kuliah beliau bantu, namun malam itu, lagi-lagi kesialan datang, beliau tak membalas sms ku. Aku hanya meminta bantuan aku harus bagaima jika menghadapi situasi seperti ini. Karena beliau selalu bisa membantu segala hal dengan jawaban cerdasnya. Tak ada harapan  dengan sms,  aku komat kamit membaca do’a sebisaku, dan kulihat jam di handphone ku menunjukkan pukul 2 pagi. Ya Tuhan... aku menangis dalam hati.
Dan tiba-tiba aku tersadar, sebelum tidur aku lupa mencuci kakiku, dan karena aku sedang menstruasi mungkin makhluk-makhluk itu memberi peringatan padaku. Karena menurut cerita makhluk halus memang suka dengan orang yang dalam keadaan tidak bersih.

***


***
Hantu kamar atas
Masih dengan cerita mistisku. Aku pernah bekerja di sebuah distributor beras yang terletak di tengah kota Trenggalek, tepatnya di jalan R.A. Kartini. Tempatku bekerja telihat seperti biasa dan seperti toko pada umumnya. Pertama bekerja di tempat tersebut sedikitpun aku tak mencium firasat-firasat mistis. Sampai pada suatu hari, saat aku makan siang, aku merasakan tempatku makan pengap dan sunyi, tempat makanku di lantai dua toko tersebut. Tiba-tiba ada pertanyaan iseng yang aku lontarkan pada juru masak tempatku bekerja,
“Mbak, kok ruangannya pengap ya? Jarang dipakai ya?”
“Sering kok mbak” dia jawab pendek.
“Tapi kok aneh ya?” tanyaku agak menyelidik.
“Aneh gimana? Biasa aja” jawab juru masak itu pelan, seperti tau maksud pertanyaanku.
Akirnya aku menyimpan pertanyaanku dalam hati. Sepertinya dia tak berkenan untuk bercerita. Makan sudah selesai dan aku kembali turun ke lantai bawah dan bekerja kembali. Esoknya, tempat makanku pindah ke rumah pemilik toko tersebut, entah alasan apa, aku tak mengerti. Dan tiba-tiba juru masak seperti mengetahui rasa penasaranku, saat makan siang dia bertanya padaku,
“Mbak, sampean kok kerasa? Apa sampean melihat sesuatu?” tanya si juru masak.
“Apa mbak? Emm agak..” aku jawab sekenaku sambil mengunyah tempe goreng yang aku makan.
Si juru masak tiba-tiba mendekat padaku dan mulai bercerita. Benar saja, tempatku bekerja memang memiliki cerita-cerita mistis, sampai-sampai pemilik toko tidak pernah mau naik ke lantai dua karena dia lah yang kerap di teror. Si juru masak bercerita, dulu ada pekerja yang bernama mas Imam, dia seorang yang khusyuk beribadah, namun setiap melaksanakan sholat di lantai dua, ada sesosok makhluk yang berambut panjang duduk bersila di depan mas Imam, mas Imam tak mau menghiraukan makhluk tersebut, karena dia tahu, makhluk yang mengganggu kekhusyu’an sholatnya adalah setan. Benar saja, makhluk itu mengganggu mas Imam, dan semakin menjadi-jadi. Saat rukuk, dia ada di bawah kepala, saat duduk, dia ada di depan, saat sujud pun dia ada di belakang posisi mas Imam sholat. Tapi karena mas Imam termasuk orang pemberani, dia tak menghiraukan teror hantu tersebut.
Si Juru masak melanjutkan ceritanya kembali
 “Mbak tau tempat yang mbak suka kemarin? Waktu mbak minum sambil foto-foto?” Aku memutar ingatanku, dan segera menjawab ,
 “Iya, balkon atas ya mbak?”
“Iya, asal Mbak tahu saja tempat dimana sampeyan duduk dan berfoto itu adalah tempat memedi sering menampakkan diri. Hantu muka rata suka duduk disitu mbak” jawabnya sambil tertawa kecil. “Hi hi hi hi.”
Seketika aku menghentikan makanku. Aku tak pernah menyangka tempat itu menyimpan banyak misteri. Si juru masak kembali bercerita. Dia bercerita bahwa setiap malam jika lampu balkon lupa di hidupkan, hantu muka rata itu duduk di teras balkon menghadap ke pintu dan diam serta rambut panjangnya terurai begitu saja. Warga di sekitar toko tersebut sering  melihat hantu itu duduk dan diam dikegelapan balkon.
Dan ternyata setelah aku telusuri dan mencari cerita disana sini, di toko tersebut pernah terjadi insiden orang tua terpeleset jatuh ke dalam sumur  tua, dan sumur tersebut ditutup begitu saja oleh pemilik toko. Menurut cerita, sumur terebut ada di gudang belakang toko. Sampai saat ini misteri-misteri cerita di tempatku kerja dulu masih tersimpan di benak para karyawan yang mengaku pernah didatangi para penunggu toko tersebut.

Story written by Hyokbek (sweet girl called Nira) 
Contact her by Twitter @septinira or Google+ +Septinira Wijayanti 
Terima Kasih...
 


Monday, January 28, 2013

Nayala dan Tari



Nayala tersenyum riang. Berjalan pelan melenggak-lenggok seperti biasa. Rasa puas terpancar dari matanya yang hitam kebiruan, sungguh indah. Dia sesekali melirik Lovita dan ibunya yang sejak tadi menatapnya, sejak dari belokan di kanan rumah mereka. Nayala tak perlu cemas dengan tatapan ibu dan anak itu, mereka selalu bahagia melihatnya pulang apa lagi dengan binar keceriaan menyelimutinya.
Tubuh Nayala kecil, putih, mulus dan halus. Dia juga gesit dan lincah. Kadang saat dia malas berjalan memutar melewati gerbang rumah, dia meloncat pagar saja dan segera masuk lewat jendela samping. Nayala yang selalu dicintai dan disayang oleh seluruh keluarga Lovita.
***
Tangis Tari begitu keras. Tangis kecewa dan lapar. Tangis gadis tiga setengah tahun yang membuat para tetangga iba, jengkel atau mungkin tak peduli lagi. Tapi tangis itulah yang selalu membuat neneknya bertahan untuk hidup lebih lama, demi cucunya. Neneknya yang sudah renta berusaha menenangkan cucunya. Mbah Sani hanya bisa menghibur semampunya. Dia tak kuat lagi untuk menggendong Tari. Tubuh 70 tahunnya yang ringkih tak akan mampu menopang Tari yang menangis terguncang-guncang. Mbah Sani hanya bisa memangku Tari di dipan kecil reyot di beranda rumahnya yang miring. Begitulah keadaannya. Miskin. Tak ada yang mudah dalam kehidupan manusia beda generasi ini. Si mbah yang uzur dan cucunya yang masih balita di rumah bambu penuh lubang yang hampir roboh.
“Nduk, maafkan simbah. Simbah tadi tertidur, lupa tidak menindih tompo nasi sama ulekan batu. Ikan asin Nduk Tari yang simbah goreng hilang.” Tak ada bedanya, tangis Tari tidak juga mereda. Mana mungkin anak sekecil dia bisa mengerti alasan neneknya. Dia hanya tahu rasa lapar dan kesal hatinya karena lauk satu-satunya telah hilang. “Nduk, simbah dulu suka makan nasi sama garam lo. Ini nasinya simbah kasih jelantah ikan asin tadi ya. Haak Nduk, coba di maem ya.” Tari membuka mulutnya, bukan untuk makan tapi karena jerit tangisnya. Mbah Sani tidak peduli, dia masukkan sejumput nasi yang telah dia campur dengan jelantah bekas dia goreng ikan asin. Tari menutup mulutnya, merasakan nasi dan rasa gurih seperti ikan di mulut membuatnya sedikit tenang. Si mbah menarik ujung jarik tapihnya, dia usap air mata cucunya dengan sayang. “Gak popo ya Nduk, nanti si mbah belikan lagi ikannya.” Si mbah jelas hanya berbohong agar Tari mau makan. Mana mungkin dia mau membeli ikan asin, dia mau berhutang lagi sambil bilang nunggu kiriman uang ibunya Tari dari kota untuk membayar.
***
Nayala pulang dengan senyum sumringah. Berjalan pelan melenggak lenggok seperti biasa. Senyumnya tak memudar sampai dia masuk ke rumah dan meletakkan sayap goreng di piringnya. Dia makan dengan lahap. Lovita datang menghampirinya, menatapnya dengan heran. Lalu dia mengelus manja kepala Nayala dengan sayang. “Makan yang banyak ya Dedekku. Ini aku kasih susu.” Lovita berjalan ke ruang tamu setelah menuangkan susu ke gelas kecil Nayala. Tak ada yang lebih indah dari pada melihat Nayala yang lucu makan dengan lahap, kecuali mungkin jika kekasihnya akan datang seperti sore ini.
***
Dipan dari bambu yang bergerak dengan suara keriyat keriyut setiap kali diduduki adalah satu-satunya perabot yang ada di bagian luar rumah mbah Sani. Dia baru saja pulang dari sawah. Bukan karena baru saja mengolah tanah tapi untuk mencari kayu bakar. Kayu apa yang bisa dicari di sawah? Hanya pohon cabe yang telah dicabut dan dibiarkan kering oleh pemiliknya yang dibawa si nenek ini. Dia gendong dengan kain di punggunnya yang bungkuk sambil menggandeng tangan kiri Tari. Gadis kecil ini sedang senang. Di tangan kanannya ada tulang daun Lamtoro yang ujungnya diikat menjadi satu sehingga berkumpul di tengah. Si mbah bilang ke cucunya itu adalah wayang-wayangan.

Tari sedang minum air putih dan gula dari botol. Sambil tidur di atas ranjang tanpa kasur, hanya beralas tikar pandan dan beberapa potong selimut tua yang kumal. Di tangan kanannya tetap tergenggam wayang-wayangan dari tulang daun Lamtoro tadi. Dia senang. Air gula dan rasa capek yang Tari rasakan mungkin yang membuatnya lebih tenang hingga dia menutup matanya. Tari bermimpi bermain wayang-wayangan dengan neneknya di atas ranjang itu. Tari yang senang dan si mbahnya yang berurai air mata.

Mbah sani merebahkan tubuhnya di atas dipan di serambi. Di bawah kakinya ada tumpukan pohon cabe kering. Rasa lelah dan lapar mungkin yang membuat matanya terpejam. Dia bermimpi menggoreng ikan asin dengan kayu pohon cabe yang baru dia dapat di tungku kecilnya. Cucunya sedang menunggu dibelakangnya dengan nasi putih di piring, sendok di tangan kirinya dan wayang Lamtoro di tangan kanannya. Si mbah yang tersenyum dan cucunya yang gembira menunggu ikan asinnya digoreng. Di mimpinya.
***
Nayala pulang dengan senyum bangga. Dia berjalan tergesa-gesa tidak seperti biasanya. Dia melompat ke atas pagar batu bata dan berjalan di atasnya. Sekali lompat dia sudah ada di depan pintu rumah. Dimulutnya ada anak ayam kecil berwarna putih dengan bulu hitam halus dibagian sayapnya yang mungil. Lovita dan ibunya melihat kedatangan Nayala. Mulut mereka terbuka sedikit. Ada rasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bukan anak ayamnya tapi leher Nayala yang merah dan bulunya yang tercerabut paksa. Lovita berteriak geram. “Siapa yang melakukannya Dedekku? Kejam sekali.” “Atau kamu baru saja main cinta dengan pejantan ya?” Ibu lovita ikut bertanya. Nayala tidak peduli. Ayam kecilnya yang bernafas kembang kempis lebih menarik dari pada ibu dan anak yang sedang mencemaskan keadaannya. Lalu Lovita memegang kucingnya, menarik ke pangkuannya dan menyingkirkan ayam sekarat itu. “Kamu ini. Dari mana lagi kau dapat anak ayam ini Nayala? Kamu ini pasti bikin aib bagi keluarga lagi.” Nayala mengeong manja sedikit sebal.
***
Suara tangis Tari tak terbendung oleh pelukan para tetangganya. Suara tangis anak tiga setengah tahun yang merindukan suara neneknya. Suara tangis gadis kecil yang menginginkan neneknya mengajaknya makan di dipan reyot depan rumahnya. Tapi nenek hanya diam di atas ranjang tanpa kasur. Matanya terpejam, alisnya robek.

Mbah sani sedang letih menyapu lantai tanah dapurnya ketika Tari bernyanyi Garuda Pancasila, memamerkan hafalan lagunya kepada sang nenek. Lagu Garuda Pancasila yang biasa dia dengar ketika mau tidur. Si mbah ikut bernyanyi pelan, memberi kesempatan cucunya memperdengarkan kebolehannya. Lalu suara ribut di samping pintu belakang itu membuat semuanya terhenti. Si mbah terkejut, tersadar dari rasa lemas yang menggelayuti tubuhnya. Ada kardus bekas air mineral yang dia taruh di sana sebagai kandang ayam sementara untuk anak-anak si Blorok, ayam betinanya. Mbah sani melihat seekor kucing gemuk berwarna putih sedang mengacak-acak anak ayam itu. Dua ekor digigit mati, dua ekor lari ke bawah rak piring dan seekor lagi kembang kempis di mulut si kucing. “Kucing kurang ajar. Hayo pergi… pergi… jangan makan ayame Nduk Tari!” Si mbah ini mengacungkan sapunya. Tergopoh kakinya melangkah di dalam balutan tapih kainnya, Mbah Sani mengusir kucing itu. Sayang kakinya tak selincah kucing putih itu, dia terjerat kain dan jatuh. Sayang tangannya tak segesit kucing itu, tak mampu menopang tubuh tuanya yang limbung. Dia tersungkur dan pelipisnya menghantam gagang sapu yang tadi dia pegang. Lalu Tari menangis meminta si mbahnya bangun.

Si mbah masih terpejam tapi bibirnya tampak berkomat-kamit. Jemari tanganya yang keriput membelai dahi cucunya. Mereka berdua bernyanyi dalam hening malam. Mereka berdua sudah hafal rasanya lapar seperti mereka hafal lagu ini. “Pancasila dasar Negara. Rakyat adil makmur sentosa. Pribadi bangsaku ayo maju maju ayo maju maju…ayo maju maju”

Supra D’Ocean

Friday, January 4, 2013

Cincin Bermata Hati Merah


Hujan deras turun bagai ditumpahkan dari langit sore ini. Suara air yang menghantam atap seng begitu keras di atas kepalaku. Tetesan-tetesan air disepanjang atap menciprati kakiku, membuat basah sepatu dan kaki celanaku. Masih pukul setengah tujuh malam, seharusnya suasana tidak sesepi ini tapi apa mau dikata hujan deras seperti ini pasti akan mengurungkan niat orang untuk bepergian, tak terkecuali para sopir angkot. Halte tempat aku menunggu kendaraan ini terletak di antara dua jalan besar. Di depanku ada jalan Tamrin yang memanjang dari arah Utara keselatan dan di belakangku ada jalan Melati yang juga memanjang seperti jalan Tamrin tapi berbelok ke timur sekitar 1 Km di Utara sana. Meskipun kedua jalan ini berdampingan tetapi angkot yang lewat di jalan ini berbeda Kode. Maka tepat di belakangkupun ada sebuah halte yang seatap dengan halte tempat aku berada.

Aku sendiri agak heran, mengapa tempat ini begitu sepi. Hujan baru turun lima belas menit yang lalu, selama itu pulalah aku berada di sini. Lampu penerangan ada sekitar 5 meter di sebelah kiriku. Lampunya berwarna kuning kecoklatan dan redup. Ditambah serangga serangga yang terbang mengelilingnya membuat cahaya itu begitu minim menerangi tempatku duduk dan hujan yang tanpa ampun terus tercurah membuat semakin suram keadaan.

Aku hanya membawa sebuah tas ransel dan sebuah map kuning tempat berkas lamaranku yang ditolak tadi siang. Mungkin karena aku begitu kesal aku lupa masih memegangi map itu dari tadi. Ku letakkan map itu dibawah tasku di atas bangku panjang halte. Aku merogoh saku untuk mengeluarkan telepon selulerku. Bermain game atau sekedar browsing mungkin bisa sedikit menghiburku. Tapi sial, baterei telepon ku sudah kritis. Aku lupa men-charge nya sampai penuh sampai-sampai jam segini sudah lowbat. Dari pada mati sama sekali kumasukkan telepon itu ke dalam tas ranselku. Belum sedetik tanganku masuk kedalam tas, teleponku berdering. Kuambil lagi dan kulihat dilayar ada sebuah nomor tak dikenal disana. Nomor telepon rumah atau kantor. Aku sempat berfikir ini adalah staf HRD yang menghubungiku untuk memberi kabar baik buat ku. Kutekan tombol penerima dan kudekatkan ke telingaku. Belum sempat mulut ini mengucap halo tiba tiba angin bertiup begitu kencang. Air hujan tertiup ketempatku sedang duduk. Reflek saja, tanganku menudungi kaca mataku dari air. Aku hampir lupa sedang menerima telepon ketika kudengar suara wanita berkata selamat sore di telingaku. Aku menjawabnya dan ‘duarr’ halilintar tiba tiba menyambar. Sepertinya pohon tinggi didekat halte kena lalu ranting jatuh menghantam pojok kiri halte ini. Sontak aku memekik dan melepaskan teleponku karena aku menggunakan kedua tanganku untuk melindungi kepalaku. Aku begitu kaget dan takut dengan halilintar tadi. Teleponku terjatuh dan terlempar agak jauh ke ruang halte di belakangku. Sial, umpatku sambil mencoba menggapai telepon itu. Tidak bisa, letaknya terlalu jauh. Jika aku harus pergi memutar berarti aku harus kena hujan. Aku tidak mau kedinginan ditempat ini. Benar benar sial, angkotpun belum tampak lewat dari tadi. Sambil berpegangan bangku halte, aku menjulurkan tanganku ke seberang. Menggapai gapai berusaha meraihnya. Sepertinya usahaku ini begitu menguras tenaga dan emosiku, aku bahkan sempat lupa bernafas hingga akhirnya jari telunjukku menyentuh sesuatu. Sesuatu yang dingin dan agak runcing. Ada sesuatu yang keras lalu lembut. Apa? Teleponku tentu saja, apalagi?

Sekarang aku mengalihkan pandanganku yang tadinya menghadap kearah jalanan ketika aku mencoba menggapai teleponku kearah bawah bangku panjang melewati celah rendah dinding pembatas ruang halteku dengan halte sebelah. Aku tidak yakin tanganku mampu meraih teleponku tadi tapi sekarang aku berhasil memegangnya. Dan aku baru sadar bahwa letak teleponku telah bergeser mendekat. Siapa yang melakukannya? Bukannya halte sebelah kosong. Aku tidak merasa ada seorangpun di belakang sana dari tadi. Lalu saat wajahku tertuju pada teleponku, aku melihat tangan itu. Tangan seorang gadis berkulit putih yang mendorong telepon ku mendekat. Akut kaget bercampur senang, rupanya aku tidak sendirian dari tadi malahan ada seorang gadis dibelakangku. Kuperhatikan jemari lentik itu. Putih dan pucat tampak dingin. Di jari manisnya tersemat sebuah cincin dengan batu merah berbentuk hati. Lambat ku tarik tarik telepon ku dan kuucap terima kasih kepadanya. Dia menarik tangannya ke atas dan kudengar suara tak jelas mungkin dia bilang iya.

Perasaan tidak enak yang dari tadi kurasakan berangsur menghilang. Aku merasa lega karena rupanya ada orang yang senasib denganku di bawah atap halte bobrok ini. Bonusnya adalah dia seorang perempuan, tak tau dari mana tapi melihat jarinya yang bagus tadi, dia pasti seseorang yang cantik. Aku mencoba membuka percakapan walaupun kami terhalang dinding seng halte. Aku tanya dia dari mana mau kemana. Pertanyaan-pertanyaan standar orang baru ketemu. Suaranya lirih, dia menjawab dia mau pulang dia baru saja dari sekolah. Aku memang melihat ada sebuah gedung SMA beberapa meter dari tempat ini tadi. Aku bertanya lagi kepada dia, menanyakan siapa namanya dan mengapa dia sendirian. Dia terdiam agak lama, aku menyandarkan punggungku ke seng pembatas berusaha membuat kontak dengan dia tapi tidak ada tekanan sama sekali dari balik dinding itu. Lalu dia menjawab namanya Diyan, dia sendirian karena ketiga temannya telah pergi, pergi jauh lebih dulu. Aku tercekat mendengar penuturannya. Aku merasakan ada duka dibalik suaranya. Kalau aku tidak salah, aku juga mendengar suara terisak tapi semua kabur karena dinginnya malam yang berhujan ini membuatku menggigil, suaranya yang lirih dan agak serak juga tak mampu menyaingi dentuman air di atap sana. Lalu aku mencium aroma itu, aroma amis yang menusuk nusuk hidung dan perutku hingga begitu mual. Aroma bangkai binatang yang tertabrak mobil lalu tersiram air hujan, aroma yang selalu aku benci karena membuatku ingin muntah. Aku menutup hidung dan terlupa dengan Diyan.

Beberapa menit berlalu tanpa suara. Aku merasa keheningan begitu mencekat, dingin yang kurasakan berdesir desir di dalam tulangku. Diyan juga tidak bersuara, aku sendiri merasa kikuk untuk bertanya-tanya karena kami terpisahkan lembaran dinding tipis ini. Lalu aku ingat akan sesuatu, sesuatu yang seharusnya ada di sana. Sesuatu itu seharusnya dua buah kaki yang terbungkus sepatu yang menjejak lantai halte sebelah. Aku yakin walaupun dinding pembatas ini rendah tapi seharusnya aku masih bisa melihatnya. Karena penasaran aku membungkuk untuk mengintip kebawah dinding pembatas, kebelakang. Aku turun dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Entah aku merasa itu akan lebih baik dari pada membuat suara gemerisik dan didengar oleh Diyan. Mukaku telah sampai di bawah bangku, kulihat ke lantai dimana telepon ku tadi terjatuh. Tidak ada kaki, lalu kugeser pandangnku, menyapu seluruh lantai halte yang remang-remang di sebelah, kosong. Hanya ada lantai yang basah dan kotor dan ceceran warna merah tua di sekitar tempat teleponku tadi terjatuh. Diyan mengangkat kedua kakinya diatas bangku fikirku.

Aku bangkit dan memegang tas serta memasukkan map kuningku ke dalamnya. Aku berkata kepada Diyan apakah dia keberatan jika aku pindah kesana biar kita bisa ngobrol. Tidak ada jawaban. Dua detik, tiga detik, empat detik lalu aku dengar suara berderit di dinding seperti suara cakaran. Lalu Diyan berkata kepadaku untuk tetap di tempatku. Aku bisa basah kalau harus berputar ke halte sebelah dan dia juga berkata lebih baik aku tidak usah kesana. Hujan memang semakin menjadi jadi, bukannya semakin reda tapi semakin deras dan dingin. Aku merasa kabut mulai turun menyelimuti sekitarku. Uap air menahan sinar lampu jalan itu menampakkan mendung tipis yang aneh. Lalu aku memaksa dengan berkata kepada Diyan kalau itu tidak apa-apa, basah sedikit yang penting aku ada teman yang bisa diajak bicara. Aku bergegas saja tak menghiraukan apa jawaban Diyan, berjalan kearah kiri halte tapi aku tidak bisa langsung berbelok karena ada tanaman hias agak tinggi di sana jadi aku harus berlari agak lebih jauh untuk memutarinya. Aku menaruh sebelah tanganku diatas kaca mataku dan terus memandang tanah becek yang kulewati agar tidak terpeleset. Menghindari cabang pohon yang tadi patah karena kilat sambil menahan dinginnya air hujan yang menembus bahu dan celanaku. Lantai halte sudah terlihat, aku hanya perlu tiga langkah untuk mencapai tempat itu. Lalu aku mengangkat mukaku untuk mencari Diyan tapi betapa terkejutnya aku, bangku disana kosong. Kosong tak ada siapapun. Aku melihat keseberang jalan, kearah deretan toko bangunan yang telah tutup. Tidak ada siapapun disana. Aku melompat ke halte dan memanggil nama Diyan beberapa kali. Tak ada jawaban. Jantungku mulai berdetak lebih kencang. Aku takut. Lalu angin yang keras menerpaku hingga basah dan lagi lagi suara halilintar begitu keras. Tapi bukan, bukan seperti halilintar kali ini. Aku memang melihat cahaya menyilaukan datang dari arah aku memutari tanaman hias tadi lalu suara berdentum tadi juga dibarengi suara berdecit. Aku gugup, mundur mencoba berpengangan bangku tapi sial aku terpeleset. Aku merasa menginjak sesuatu yang keras di lantai yang licin. Aku berteriak mengaduh sambil memengangi kepalaku agar tidak terbentur. Kacamataku lepas, tersuruk di bawah bangku. Diantara suara nafasku yang menderu dan jantungku yang berpacu tidak karuan aku meraba raba mencari kacamataku. Lagi lagi aroma amis menerpa wajahku. Mencekik leher dan terasa menyumbat kedua lubang hidungku. Aku menemukannya. Kaca mataku dan jemari dingin yang meletakkannya di tanganku. Aku sempat memegang sesuatu seperti cincin di jemari itu. Mataku yang kabur tidak mampu melihat tangan Diyan atau siapa itu tadi, tapi aku yakin itu dia. Aku mengusapkan kaca mataku ke kemejaku lalu memakainya. Saat aku merasa mulai bisa mengontrol diriku, aku mulai duduk dan hendak berterima kasih untuk yang kedua kalinya lalu aku melihat tangan itu. Tangan putih pucat dengan cincin bermata merah tergeletak di lantai. Tangan tanpa lengan, tangan yang tergeletak mati dan kaku sepanjang pergelangan. Daging yang carut marut tampak menyembul dari bagian atas tangan itu. Mengerikan dan membuatku ingin muntah. Aku berteriak ketakutan, bergerak mencoba untuk bangun dan berlari tapi begitu sulit, begitu berat. Aku berteriak teriak dan terus menendang lantai hingga akhirnya aku bisa bangkit. Tak perlu menunggu hujan reda, aku segera berlari meninggalkan halte sialan itu. Aku berlari menyeberang jalan kearah toko bangunan itu. Aku tahu beberapa meter dari toko itu pasti ada warung atau rumah yang berpenghuni.
Aku berlari dan terus berlari tanpa memandang halte itu lagi. Kira kira pada jarak 15 meter di depanku aku melihat sesuatu yang sedikit melegakanku. Sebuah kompor besar di atas meja dengan dandang besar mengepul. Di atasnya menjulang tumpukan jagung rebus yang ditata seperti gunungan. Lalu lelaki sepuh yang memakai topi jerami, dia pasti penjual jagung rebus itu. Ketika aku tiba di sana, badanku sudah basah kuyup, celanaku belepotan lumpur, pandanganku kabur karena kaca mataku basah. Nafasku tersengal sengal dan bayangan akan potongan tangan itu terus menghantuiku. Di bawah emperan toko kecil itu, bapak sepuh penjual jagung hanya diam saja. Seolah tidak mendengar kedatanganku yang berisik dan kacau. Aku berteriak teriak minta tolong sampai akhirnya bapak itu bertanya kepadaku ada apa. Aku berkata dengan terbata bata kepada bapak sepuh itu kalau aku baru saja melihat hantu. Sebuah hantu tangan di halte sana. Bapak sepuh itu tampak tercengang kaget, kepalanya yang menunduk tampak kaku. Lalu dia mengangkat wajahnya dan aku bisa melihat seperti apa tampaknya bapak ini dibawah topi jeraminya.

Syukurlah dia manusia. Wajah lelaki yang seumur hidupnya harus bekerja keras, keriput dan gelap. Dia juga tampak begitu dingin, mendengar teriakan dan ceritaku pun dia hanya menegang sedikit tapi tidak tampak bersimpati sedikitpun. Lalu aku mendengar dia berkata untuk menyuruhku duduk. Dia bilang aku beruntung hanya melihat potongan tangan. Tentu saja aku hendak protes tapi dia tak acuh dan berjalan berbalik. Saat itu aku baru sadar bapak ini menggunakan celana hitam komprang seperti warog pada pagelaran tari kuda lumping. Jalannya agak susah dan pincang. Aku maklum dia sudah sepuh. Lalu aku berkata kepadanya betapa sepi tempat ini pada jam segini. Dia terkekeh saja. Jantungku masih berdegup kencang, rasa takut belum sepenuhnya hilang. Tapi bapak sepuh ini sudah cukup memberi rasa aman karena melihat dia begitu tenang pastinya dia sudah terbiasa ada di tempat ini. Hujan pun mulai mereda tapi dinginnya masih menusuk tulang dan membuatku menggigil. Bapak penjual jagung itu berjalan lagi kearah ku. Pincang dan sangat tidak mengenakkan. Dia membawa selembar kain putih, mungkin handuk. Dia menyodorkan kain itu padaku dan menyuruhku untuk sedikit mengeringkan wajah dan rambutku. Aku terima kain itu tak peduli dengan warnanya yang dekil lalu menggosokkan kain itu ke wajah dan rambutku.

Anyir, busuk tiba-tiba datang lagi. Aku tercekat. Aku waspada. Aku tidak ingin mengetahui kalau bapak yang duduk di depanku ini hantu juga. Tidak menghiraukan aroma tadi, aku bertanya kepada bapak itu kenapa dia jalannya susah, apakah dia baru jatuh. Dia menjawab dengan tenang, memberitahuku kalau dia baru saja mendapat kecelakaan. Aku kasihan kepadanya, di usianya yang sudah sepuh ini dia harus mendapat musibah waktu berjualan.

Aroma jagung rebus menguar di udara dan kuhirup. Segar dan agak gurih, seperti ada aroma dagingnya juga. Mungkin jagungnya enak. Lalu bapak itu berkata lagi kalau kakinya masih sakit, bahkan sekarangpun masih. Aku memandang kearah kaki kirinya yang tampak pincang tadi tapi aku hanya melihat celana hitam komprang sampai tanah. Seperti tahu apa yang sedang kupikirkan, dia mengangkat celananya dan aku memandangnya. Astagfirullah… aku kaki kiri itu tidak ada. Ya, benar-benar tidak ada. Semakin tinggi dia mengangkat celananya dan aku tahu kaki itu patah sampai betis. Seketika aku merasa limbung. Jantungku mau meledak dan nafas ini begitu sesak. Lalu pak tua ini terkikik kikik panjang dan basah. Suara tawa orang batuk berdahak. Aku berdiri dari dudukku dan memandang wajah bapak sepuh ini. Tapi dia tidak balas memandangku, wajahnya mengarah ke dandang besar yang ada di sampingnya. Lalu pandanganku pun tertuju pada tumpukan jagung yang ada di dandang itu. ‘Aaaaaaarrgh… setaaan’, aku berteriak histeris dan mulai berlari meninggalkan tempak terkutuk ini. Aku menangis dan tersengal-sengal karena ketakutan. Apa salahku hingga aku harus mengalami kejadian malam ini. Demi Tuhan aku sangat syok ketika melihat ke tumpukan jagung itu. Tumpukan jagung yang beraroma segar dan gurih itu. Sialan, aku melihat sepotong kaki pucat melepuh dari betis hingga jari jarinya. Tampak kuku-kuku jari kaki itu tadi hilang hingga ada warna merah yang meleleh ke jagung-jagung disekitarnya.

Aku berlari, lupa telah berapa lama hujan telah reda. Aku sampai dibagian kota yang terang dan ramai. Pukul setengah 9 malam. Orang yang melihatku pasti menganggapku tidak waras. Dengan pakaian basah acak-acakkan, celana kotor dan tas ransel berwarna lumpur aku berlari-lari ketakutan. Aku harus mendapatkan tempat yang aman, aku harus berganti pakaian dan berkumpul dengan orang orang yang nyata bukan dengan hantu-hantu sialan tadi. Maka aku berbelok kesebuah losmen yang tampak terang. Aku tak peduli dengan uang dalam dompetku, yang penting aku bisa selamat sampai pagi.

Resepesionis menerimaku dengan terheran-heran, lelaki berusia 30 tahunan itu juga tampak ragu untuk menganggapku sebagai seorang tamu. Tapi untunglah dia mau menerimaku setelah aku menunjukkan uang dalam dompetku. Aku mendapatkan sebuah kamar di lantai dua losmen kecil ini.

Aku langsung menuju kamar mandi. Mengisi tub dengan air panas dari keran berwarna merah. Aku melolosi semua pakaianku yang kotor dan basah. Saat aku menarik lengan kemejaku aku melihat sesuatu terjatuh dan masuk ke dalam tub berisi air panas. Aku tak tau apa karena air bergelembung dan uapnya memenuhi mataku. Lalu aku memutar keran biru untuk mengalirkan air dingin. Setelah semua pakaian kotor itu lepas dan air di tub ku menjadi hangat aku membasuh tangan dan kakiku. Mencuci tubuhku di shower sebelum aku masuk dan berendam di tub. Satu menit kemudian aku sudah berada di dalam air hangat yang menenangkan. Sunyi lagi yang kurasakan. Aku memejamkan mata beberapa saat untuk merasakan tubuhku yang mulai segar walau sepertinya aku kehabisan tenaga. Aku beringsut di tub dan aku merasakan sesuatu mengganjal punggungku. Apa? Oh aku ingat, mungking kancing bajuku lolos waktu aku melepasnya tadi. Kuraih benda itu dengan tangan kiriku. Bulat seperti kancing tapi melingkar dan berlubang. Kutarik tanganku dari balik tubuhku. Kudekatkan ke depan mataku lalu aku melihat sebuah cincin emas dengan batu merah berbentuk hati. Ya cincin yang aku lihat di halte tadi, cincin Diyan. Aaaaaaaarh.. aku bangun dari tub dan melempar cincin itu. Saat aku berhasil berdiri dan mengambil handuk lalu membuka pintu kamar mandi kakiku menginjak sesuatu. Sesuatu yang cukup besar hingga membuatku jatuh dan menabrak pintu. Sesaat sebelum semuanya gelap, aku melihat kaki melepuh dengan jari jari meleleh di depan mataku. Lalu aku tidak ingat apa-apa lagi kecuali suara terkikik-kikik dibelakang telingaku.

Dua hari kemudian, aku telah menemukan diriku dirumahku lagi. Aku sadar kemarin dan tahu-tahu sudah berada di kamar tidurku. Mungkin pihak losmen telah menemukanku dan menghubungi keluargaku. Aku selamat dari malam penuh kesialan itu. Aku tidak peduli dengan bentukku yang seperti apa ketika ditemukan kemarin itu.

Aku mendapati ibuku duduk di ujung tempat tidurku. Ibu memegang sebuah surat kabar. Beliau memberitahuku kalau aku telah berteduh di halte yang sebulan lalu telah terjadi kecelakaan hebat disana. Empat orang siswa SMA tewas ketika sedang menunggu angkot karena ada sebuah mobil yang melanggar jalan dan menabraki mereka karena pengemudinya sedang mabuk. Lalu mobil itu melaju lagi hingga menabrak seorang kakek penjual jagung hingga meninggal sampai akhirnya mobil itu terjungkal di parit. Ibu memberitahuku dan meletakkan koran itu di sampingku. Beliau mengelus keningku dan hendak pergi ketika aku melihat ada cincin di jari manisnya. Cincin bermata hati merah, cincin Diyan. Aku lupa apa yang terjadi kemudian.