Total Pageviews

Showing posts with label cinta bertepuk sebelah tangan. Show all posts
Showing posts with label cinta bertepuk sebelah tangan. Show all posts

Sunday, March 31, 2013

CANDIKALA - SENJA JINGGA




Sore dengan langit jingga selalu menjadi waktu kesukaanku. Saat langit berpendar dengan arakan awan berwarna merah keemasan dan pilar-pilar cahaya yang menembus kumpulan awan yang lebih tebal menghujam ke bawah lalu hilang membias sebelum menyentuh bumi, semuanya begitu menakjubkan. Dikejauhan, di sela-sela pegunungan yang menggelap sisi depannya, mentari sore bergerak perlahan begitu pelan menghilang keperaduannya, menyisakan cahaya jingga kemerahan yang mengintip malu-malu. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi memandang lukisan alam yang begitu menakjubkan ketika melintasi jalan di tengah areal persawahan ini begitu menenangkan, hatikupun terasa ringan melayang. Sejenak aku lupa dengan segala kegelisahan yang akhir-akhir ini begitu akrab dengan diriku.

Aku berdiri di bibir pembatas jalan, melayangkan pandanganku ke hamparan sawah yang ada di bawahku. Padi yang baru mulai tumbuh tampak menggelap, menampilkan ilusi danau beriak tertiup angin. Sore yang jingga, sore yang indah mulai menghilang, digantikan oleh pekatnya malam berangin semilir yang meniup kegelisahan kehatiku lagi. Aku pun beranjak pulang. Rumahku tak jauh dari tempatku sering menghabiskan sore, ‘jalan baru’ kami menyebutnya, walaupun jalan di tengah areal persawahan ini tak lagi baru, 5 tahun mungkin tak kurang usianya semenjak jalan ini diaspal dan menjadi akses alternatif menuju kota. Langkahku pulang diiringi suara adzan maghrib dari surau tua di dekat rumahku. Aku harus bergegas atau aku akan ketinggalan sholat maghrib berjamaah lagi. Aku tidak mau kuping bapakku panas mendengar bisik-bisik tetangga yang menggunjing tentang anak lelakinya yang tidak rajin ke surau, pulang main-main tidak penting dan lupa sholat. Tinggal di desa kecil di daerah pedalaman yang kultur budaya religiusnya begitu kental haruslah selalu sholat berjamaah di surau atau masjid, kalau tidak bersiaplah menjadi bahan gunjingan tetangga.

Aku berusia 16 tahun, tapi aku masih kelas 3 SMP padahal teman-temanku sudah kelas 1 SMA. Aku pernah tidak naik kelas waktu SD jadi aku tertinggal satu tingkat dari teman-temanku. Aku tidak pernah menyesali ketidaknaikkanku itu. Ibuku selalu bilang, aku tidak boleh terlalu menyesali sesuatu. Penyesalan selalu datang diakhir, jadi kata ibu, sebelum penyesalan itu datang aku harus berusaha keras dan berdoa kepada Allah agar segala sesuatunya dilancarkan. Akan tetapi jika kenyataan tidak seperti yang aku harapakan, itu bukan karena aku gagal tapi karena Allah punya rencana lain untukku. Jadi jangan pernah menyesal apa lagi menyerah. Itulah ibuku, perempuan sederhana yang berprinsip dan penyayang. Aku juga tak akan menyesal karena tertahan satu tahun di SD waktu itu. Aku tidak naik bukan karena aku bodoh tapi karena aku dulu sakit tifus sampai 2 bulan lalu guru kelas 3 ku tidak menaikkanku dengan alasan terlalu banyak pelajaran yang aku lewatkan.

Bapakku seorang petani. Beliau pendiam dan pemikir. Tak banyak yang bapak ucapkan jika memang tidak perlu tapi menurutku bapak kadang bicara banyak juga. Bapak bicara banyak atau bercerita hanya kepada orang yang beliau kenal baik, orang yang akan setia mendengarkannya tanpa banyak menimpali hal-hal yang tidak disukainya. Siapa lagi kalau bukan dengan ibuku. Aku tahu karena ibu sering memperingatkanku untuk tidak boros, untuk rajin sholat, belajar dan bergaul yang benar dan itu semua kata beliau adalah atas suruhan bapak. Bapak juga tidak marah-marah atau mengata-ngataiku dengan hal-hal yang buruk, tapi jika beliau sudah terlanjur emosi dan tak tahan maka beliau akan langsung bertindak. Aku masih ingat, waktu itu bapak melepaskan sandalnya dan melemparkannya kepada ku gara-gara beliau menyangka aku mengganggu adikku sampai menangis. Padahal adikku menangis gara-gara temanku yang menjahilinya. Aku lari ke tegalan di belakang rumah dan sampai takut mau pulang.  Sejak saat itu aku berjanji untuk tidak membuatnya marah. Meskipun saat itu ketika aku mengendap-endap pulang beliau telah menungguku di samping kamar mandi, tempat yang pasti akan aku tuju karena hari telah sore dan aku harus mandi. Bapak menungguku dan memandikanku. Aku tahu bapak menyesal telah melempariku dengan sandalnya walaupun tidak kudengar beliau meminta maaf padaku tapi aku tau dari sorot matanya ketika menungguku dan membelai kepalaku yang dikeramasinya dengan lembut. Aku masih ingat saja kejadian itu walau sudah lama berselang, ketika aku duduk dikelas 2 SD.

Bukankah tadi aku bilang kalau akhir-akhir ini aku gelisah? Aku ingin menceritakannya padamu. Aku juga akan memberitahu kalian kenapa aku suka menghabiskan waktu soreku di jalan baru tengah sawah itu.
***

Maya adalah teman sekelasku. Dia tinggal di lain desa dan aku hanya berjumpa denganya di sekolah. Maya duduk di depanku dengan Dika, bendahara kelas. Maya anaknya pemalu. Sering kali ketika guru kami memberinya pertanyaan dia menjawab tanpa berani menatap langsung sang guru. Begitu pula ketika teman-teman menggodanya, dia hanya tersipu, menahan senyumnya dan memerahlah pipinya. Berbeda dengan Dika yang lebih pemberani. Mungkin dia adalah siswa perempuan yang paling berani di kelasku. Dia tak segan memprotes guru yang sering terlambat bahkan menantang panco guru olah ragaku. Mereka begitu kontras.

Setiap hari aku melihat maya dari belakang. Aku senang melihat rambutnya yang bergelombang sebahu. Aku suka memandangi punggungnya, entahlah aku suka saja. Rambutnya harum dan pakaiannya segar, menghirupnya dari belakang ketika ada angin yang bertiup membuatku bersemangat belajar. Tapi aku paling suka ketika melihat dia tersenyum dan pipinya merona. Dia manis.

Tapi seminggu ini aku belum melihat dia tersenyum. Dia tampak lebih pendiam walaupun biasanyapun dia tidak banyak bicara. Tapi aku tahu dia murung. Aku bukan teman dekat Maya tapi karena aku selalu duduk di belakangnya maka aku tahu ada yang tidak biasa dengannya. Saat bel istirahat berbunyi anak-anak berhambur keluar. Membeli makanan ringan atau minuman di kantin adalah hiburan. Aku tidak punya banyak uang jajan. Kadang jika ibu punya uang lebih aku diberinya uang saku tapi jika tidak aku juga tidak meminta. Aku cukup sarapan saja di rumah. Biar Ijal, adikku yang mendapat uang saku. Hari ini ibu memberiku 500 rupiah. Aku sudah akan berjalan melewati pintu ketika aku menyadari hanya Maya yang tidak keluar kelas. Dia tampak malas memasukkan bukunya ke dalam tas, tatapannya kosong. Aku mengurungkan niatku. Aku berjalan kearah bangkunya dan bertanya, “Ada apa Ya? Kok sepertinya dari tadi diam saja. Sakit ya?” “Eeh.. Wan, aku tidak apa-apa. Malas saja rasanya.” “Kok tumben malas. Apa tidak ingat kata pak Agus, kelas tiga gak boleh malas ujian sudah dekat,” kataku tidak percaya mendengar jawaban Maya. “Itu dia. Andaikan saja ujian masih jauh... Kamu kalau mau beli makanan beli saja. Aku gak apa-apa kok.” “Iya. Kalau beneran tidak apa-apa ya sudah. Kalau perlu bantuan bilang saja jangan sungkan ya” Aku sebenarnya heran mendengar Maya berkata seperti itu. Tidak biasanya siswa sepintar seperti Maya mengeluh tentang ujian. Aku saja sudah tidak sabar untuk bisa sekolah di SMA, artinya aku bisa lebih sering pergi ke kota Kabupaten. Tapi entahlah, aku pergi keluar kelas ke perpustakaan sekolah.

Betapa rapuh hati ini saat melihat orang yang kita cintai sakit. Begitu pula dengan temanku yang manis, Maya. Ibunya sakit-sakitan sejak melahirkan adiknya dua tahun yang lalu. Aku tahu ibu Maya sakit karena aku melihat Maya, ibunya, ayahnya dan seorang lelaki naik sebuah mobil sedan berwarna biru telur bebek melintas di jalan baru ketika aku sedang duduk di pinggir sawah petang itu. Kira-kira dua minggu yang lalu. Mobil itu melintas cukup pelan karena memang aspal di jalan itu sudah tidak rata lagi. Aku melihat ibunya bersandar lemas di bahu suaminya dan Maya memijit lengan ibunya. Ketika aku tahu ada Maya di dalam mobil itu, aku berdiri agar bisa melihat siapa saja di sana. Aku sempat melihat maya memandangku tetapi ketika mobil itu semakin mendekati tempatku berdiri, Maya membuang mukanya dariku. Aku tidak tahu kenapa. Keesokan harinya, di sekolah aku bertanya kepadanya tentang apa yang kulihat kemarin sore. Benarkah itu dia. Maya menjawab benar. Mereka mengantar ibu ke Puskesmas untuk dirawat di sana. Kondisinya tiba-tiba drop setelah pulang dari ziarah Wali Songo. Aku juga bertanya siapa lelaki yang mengemudikan mobil itu tapi Maya tidak mau menjawab. Dia pergi dengan alasan ada keperluan dengan temannya di kelas lain.

Aku tidak pernah berpikir macam-macam tentang hal yang tidak jelas tapi kejadian sore itu mau tak mau membuatku penasaran juga. Itu adalah sore keempat setelah aku melihat Maya mengantarkan ibunya ke Puskesmas. Apalagi akhir-akhir ini ada yang berubah dari sikapnya. Sore itu, ketika aku sedang duduk di pinggir sawah seperti hari-hari biasa. Menatap langit sore yang jingga, mengingat kata-kata Bapak ketika aku masih kecil bahwa langit sore yang seperti ini namanya Candikolo. Aku juga tidak tahu apa maksud dari istilah itu tapi Bapak bilang pada saat langit sore jingga keemasan dan awan bercahaya, itu menandakan bahwa gerbang kerajaan langit sedang dibuka untuk mengizinkan para bidadari masuk kembali ke istana. Aku begitu tertarik dengan sepenggal cerita yang Bapakku biasa katakan ketika mengajakku duduk-duduk di teras depan rumah. Aku selalu ingin tahu di mana letak istana itu dan seperti apa bidadari itu tapi Bapak bilang itu mustahil karena jika kita berlama-lama melihat Candikolo sampai Adzan Maghrib berkumandang kita bisa diculik raksasa. Oleh karena itu sebelum gelap tiba kita harus segera pergi ke surau.

Ya, sore itu senja jingga, Candikolo sedang terpampang di langit Tuhan. Aku tidak mau melewatkannya maka aku pergi ke jalan baru untuk menikmati pemandangan itu. Selang lima belas menit aku duduk di pembatas jalan, aku melihat mobil sedan warna telur bebek itu lewat. Mobil itu berjalan perlahan kearah utara. Aku ingat itu adalah mobil yang membawa ibu Maya ke Puskesmas. Pandanganku kualihkan ke mobil itu. Aku melihat lelaki dewasa berusia sekitar 30 tahunan mengemudi dan seseorang lagi sedang duduk di kursi sebelahnya. Dia tidak memandang ke depan ataupun ke arahku. Seseorang itu sepertinya tidak ingin aku tahu siapa dirinya tapi aku tahu siapa dia. Dia adalah gadis berambut sebahu. Maya, siapa lagi.

Semakin hari aku semakin merasa suka dengan Maya. Mungkin aku sedang jatuh cinta tapi aku tidak mengatakannya. Bukan aku tidak berani tapi aku merasa ini adalah perasaan yang aneh tapi sekaligus menyenangkan. Aku tidak tahu harus berbuat apa setelah aku mengatakan kalau aku menyukainya. Yang aku tahu, jika seorang lelaki menyukai seorang perempuan maka tidak lama kemudian mereka akan menikah. Seperti Mas Ahmadi tetanggaku dan mbak Karmila dari desa sebelah. Aku tidak mungkin menikah setelah lulus SMP, aku ingin sekali bersekolah lagi. Tapi hari ini aku tidak bisa tinggal diam. Di kelas, wali kelasku memanggil Maya ke depan. Beliau bertanya dengan suara pelan ke Maya tapi aku bisa membaca dari bibirnya apa yang Ibu wali kelas tanyakan. Beliau menanyakan tentang uang LKS sebesar Rp. 105.000 yang rupanya belum dibayar oleh Maya padahal semua teman sekelas telah melunasinya. Maya tampak hanya tertunduk diam. Aku tidak tahu apa yang dia katakan karena dia berdiri membelakangiku.

Pada jam istirahat, ketika teman-teman yang lain pergi ke kantin aku berhenti di samping bangku Maya. “Kamu belum bayar uang LKS ya?” tanyaku. Dia tampak terkejut lalu berkata, “Iya belum, belum ada uang.” Aku agak heran dan tidak percaya mendengar jawaban itu. “Kamu kan tahu kalau akhir minggu ini adalah batas pembayarannya dan ini juga sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian akhir. Bagaimana nanti?” tanyaku kepada Maya. “Aku tahu Wan, besok aku bisa bayar kok. Hari ini hanya lupa tidak bawa saja.” “Apakah benar seperti itu? Jika kamu butuh bantuan mungkin aku bisa meminjamimu sedikit. Aku ada tabungan atau pinjam ibuku.” “Tidak, tidak Wan. Jangan, terima kasih. Kamu tidak perlu melakukan itu, aku sebenarnya ada uang kok.” Keherananku bertambah, “Lalu kenapa tidak segera kau bayar? Aku tidak percaya jika kamu lupa atau tidak punya uang atau ayahmu belum memberimu. Jika benar orang tuamu belum punya uang, paman atau saudaramu yang punya mobil itu pasti bisa meminjamimu kan?” aku tidak menyangka jika kalimat yang aku ucapkan tanpa pikir panjang ini akan membuat suasana berubah drastis. Aku melihat perubahan ekspresi di wajah Maya, dia tampak lebih tegang dan sedih. “Wan, itu bukan pamanku atau saudaraku,” kata Maya dengan suara bergetar. “Aku lebih suka tidak lulus dari pada harus meminta uang kepadanya.” Matanya sekarang berkaca-kaca dan aku jadi bingung. “Ada apa Ya? Lalu dia siapamu?” “Sudahlah Wan, aku tidak ingin membicarakannya.” “Tapi aku peduli denganmu May, aku tidak ingin kamu mendapat masalah sehingga kamu tidak lulus. Aku ingin bisa bersekolah lagi sama-sama kamu.” Maya memandangku dengan ekspresi terkejut tapi dia tidak berkata apa-apa. Beberapa teman masuk ke kelas membawa makanan dan minuman mereka, aku menghentikan percakapanku dengan Maya.

Sore itu tidak ada Candikolo, langit sore gelap karena mendung tebal. Aku tidak pergi ke jalan baru karena memang hujan tampaknya akan turun. Aku sedang membantu Ijal mengerjakan PR nya ketika ibu datang dan berkata, “Wan, anak perempuan Bu Aminah yang tinggal di desa sebelah itu teman satu sekolahmu ya?” “Anak Bu Aminah? Siapa ya Bu?” “Itu yang rumahnya dekat Balai Desa. Dia agak sering sakit-sakitan setelah melahirkan.” Aku ingat sekarang, “Oh, mungkin itu ibunya Maya. Iya anaknya teman sekelas Wawan. Ada apa Bu kok tiba-tiba bertanya tentang dia?” “Maya ya namanya,” ibuku bertanya tapi lebih ke dirinya sendiri, aku tidak perlu memberinya jawaban. “Anaknya cantik ya Wan?” Aku tertawa mendengar ibu yang tiba-tiba bertanya seperti itu. “Hmm ya cantik bu, manis. Memang kenapa bu? tanyaku lagi. “Ibu dengar dari ibu-ibu di Jamaah Yasinan, si Maya itu mau dinikahkan selepas lulus dari SMP ini.” Kata-kata ibu sangat mengejutkanku. Aku terbelalak tidak percaya mendengar apa yang ibu katakan. “Yang benar bu?” “Ibu juga kurang tahu, Wan. Kata ibu-ibu dia akan dilamar sama Deni anaknya Pak Abu pemilik toko bangunan di desa situ.” Percakapan kami terputus sampai disini karena kudengar suara Bapak memanggil Ibu dari dapur. Aku tiba-tiba merasa lemas. Perasaanku tidak enak sekali. Aku tidak tahu kenapa tapi hal ini kurasakan setelah aku mendengar bahwa Maya mau dinikahkan. Ada perasaan tidak rela yang sulit untuk aku jelaskan.

Hari ini Maya tidak masuk sekolah, di papan absensi tertulis izin. Aku jadi menduga-duga kalau acara lamaran itu berlangsung hari ini. Rasanya sungguh tidak adil bagi Maya dan akupun turut geram membayangkannya. Tapi siapa tahu, Maya juga menghendakinya. Sore ini aku membawa sepedaku ke jalan baru, ke tengah areal persawahan tempat aku biasanya menghabiskan sore. Aku mengayuh sepedaku cepat-cepat. Pukul setengah lima tapi hari sudah mulai gelap. Mungkin senja berwarna jingga akan muncul. Dari kejauhan aku melihat seseorang duduk di pembatas jalan yang bisanya aku gunakan untuk duduk. Aku penasaran siapa yang telah merebut tempat favoritku itu. Semakin dekat semakin jelas siapa yang terlihat disana. Gadis berambut sebahu dan sepeda jengki berwarna gelap. Jantungku berdegup kencang, mungkin karena aku terengah-engah mengayuh sepedaku terlalu kencang atau mungkin saja karena hal lain. “May, kenapa kamu ada disini?” Dia tersenyum sebentar lalu kembali memandang gunung di barat sana, ke semburat jingga keemasan yang mulai merebak. “Aku tahu sekarang kenapa kamu suka ada di sini hampir setiap sore Wan. Aku melihatmu beberapa kali ketika melewati tempat ini tapi kamu tidak mempedulikan jalanan yang ada di belakangmu. Sore di sini begitu indah.” “Iya aku suka melihat langit di sini. Candikolo itu selalu membuatku tertarik sejak aku masih kecil. Tapi kenapa kamu tumben kesini? Tadi pagi kamu juga tidak masuk sekolah.” Maya menjawab pertanyaanku tanpa memandangku, “Iya, aku juga ingin menikmati hari-hari terakhirku di SMP. Aku tahu tempat ini bagus jadi aku kesini.” Aku jarang sekali mendengar Maya berbicara sebanyak ini, dia biasanya pendiam. “Aku tidak masuk sekolah hari ini karena dilamar sopir sedan biru itu.” Kata-kata Maya begitu tajam. Suaranya terdengar menahan luapan emosi. Aku hanya diam. “Aku akan segera menikah Wan. Kamu tidak akan melihatku di SMA manapun. Menikah.” Suara Maya tidak setajam tadi, aku mendengar getaran di suara itu. Getaran kegetiran dan ketidakrelaan. “Kenapa Ya? Kamu tidak suka bersekolah? Itu juga alasanmu tidak segera membayar kan?” “Aku sangat ingin bersekolah Wan, tapi orang tuaku memintaku untuk berhenti sampai SMP saja. Tak baik menolak pinangan orang, itu kata mereka” kata Maya menahan tangis. “Kamu tidak bisa menolaknya?” tanyaku. “Aku sudah pernah menolaknya tapi Ibuku berkata ini adalah pemintaannya yang terakhir, Wan. Ibuku sakit-sakitan, beliau ingin melihatku berumah tangga sebelum Allah memanggilnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa mendengar Ibu berkata seperti itu. Bapakku pun setuju saja. Aku tidak punya pilihan lain.” Kami berdua berdiri terdiam. Memandang langit yang sekarang bercahaya keemasan dan awan yang merah kekuningan. Lalu aku memecah kesunyian itu, “Aku harus mengucapkan selamat atau apa ke kamu Ya? Jika saja aku sudah dewasa, aku ingin membantumu. Tapi sekarang ini akupun tak tahu harus berkata apa atau berbuat apa untuk membantumu. Itupun jika kamu benar-benar membutuhkan bantuan.” “Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, Wan. Aku bahagia sekali bisa berada di sini melihat pemandangan ini bersamamu. Ini cukup membantuku.”

Lalu suara sedan kecil warna biru telur bebek itu terdengar berhenti. Aku menoleh dan melihat lelaki itu keluar dari mobilnya. Dia memanggil Maya, setengah berteriak marah karena melihat calon istrinya bersama lelaki lain di pinggir sawah pada jam seperti ini. Maya berbalik, dia berjalan menuju ke sepedanya. Dinaikinya sepeda itu lalu dia beranjak. Aku masih mendengar dia berkata ‘terima kasih, Wan’ sesaat sebelum mobil itu mengiringinya. Aku kembali melihat ke langit di barat sana. Cahaya jingga mulai meredup menghilang dan bidadari telah pulang ke istananya. Aku mendengar sayup suara Adzan Maghrib dari surau dekat rumahku. Akupun harus pulang.

By Supra D’Ocean

Sunday, February 24, 2013

I'm alright. It just hurts every time I take a breath


Aku menertawakan cinta bukan karena dia lucu, tapi betapa cinta mampu menertawakan kita. Manusia yang terkena panah asmara hingga cinta berkobar di dadanya mampu berbuat apa saja. Menjadi pemberani, menjadi pemberontak, menjadi ceria, menjadi gila, menjadi hidup, menjadi mati ataupun menjadi konyol. Dan apa yang dilakukan cinta saat sang korban bergulung-gulung dalam kenikmatannya, lari pontang-panting mengejar cintanya atau duduk terpekur dalam tangis meratap akan nafas cintanya? TERTAWA. Apalagi? Kau pikir dia akan sedih atau bergembira menari-nari? Tidak, dia hanya tertawa saja. Dari pada cinta saja yang menertawakan kita, izinkan aku untuk menertawakan cinta juga. Mungkin lebih tepatnya si Cupid, dewa asmara. Tawaku mungkin tawa sinis. Biarlah. Kau yang bahagia karena cinta, berbahagialah. Kau yang menderita karena cinta, tertawalah bersamaku. Tapi jangan sangka aku juga sedang merana sepertimu. Aku menertawakan Cupid dan panah cintanya karena dirinya sendiri diciptakan buta dan tanpa kekasih. Saat dia mencoba memanah jantungnya agar cinta datang padanya, matilah dia. Tapi aku juga tidak yakin apa yang dirasakannya selama ini. Mungkinkah dia kesepian, atau mungkinkah dia bahagia karena melihat manusia bercinta. Tapi yang pasti dia juga sedih karena ada begitu banyak cinta yang kandas. Yang tak aku harapkan hanya satu. Cupid adalah dewa tanpa perasaan. Tapi mungkin saja kan… lalu yang berikut ini adalah cinta yang seperti apa. Cupid kah yang membuat cinta segi tiga, segi empat dan cinta terlarang? Lalu seseorang berkata, “cinta itu hanya hati saja yang bisa merasakan. Cinta itu buta. Cinta itu anugerah. Dan lain-lainnya.” Tak ada yang salah, siapapun berhak memaknai cinta mereka sendiri-sendiri tapi jangan sok tau dengan cinta orang lain.

Halooo….? Siapa Cupid? Siapa dewa cinta? Ada berapa Cupid? Jangan memikirkannya terlalu dalam. Aku tahu di agamaku tidak ada dewa dan aku tak tahu kamu percaya akan dia atau tidak. Sebenarnya aku hanya ingin tertawa saja. Aku heran, kenapa juga aku minta izin kalian untuk menertawakan cinta. Sebelum aku meneruskan cerita ini, jawab dulu satu pertanyaanku. Jika kamu menjawab iya, lanjutkanlah membaca. Jika tidak, aku tidak akan memaksa.
Apakah kamu mencintaiku?
Lalu aku tertawa berderai-derai menertawakan pikiranku yang kacau. Baiklah aku mulai saja.


           
             Cinta pertama Intan datang saat dia duduk di kelas dua SMP. Saat itu dia merasakan degup aneh di dadanya. Duduk di kelas yang sama dengan Satria, melihatnya bercanda, tertawa dengan teman-temannya atau melirik dia saat serius belajar adalah sebuah debar menyenangkan. Intan tidak tahu harus menyebut apa perasaan itu. Dia hanya menikmati setiap saat menatap Satria bergerak memenuhi relung-relung hatinya hanya karena kejadian-kejadian kecil di kelas atau di sekolah.
            Suatu hari, Pak Sujito, guru Bahasa Inggris Intan meminta murid-muridnya untuk membentuk kelompok. Setiap siswa bisa memilih kelompoknya sendiri asal tidak lebih dari 4 orang. Intan bukan siswa yang akan bergerak cepat memilih teman kelompoknya. Dia akan duduk dan ikut teman sebangkunya, Ambar, dimanapun dia akan membentuk kelompok. Tapi tidak untuk hari itu. Ambar telah bergabung dengan teman-teman yang lain dan tidak ada lagi kursi untuknya. Kelas hanya menyisakan Intan dan Putri, siswa tanpa kelompok. Tanpa diduga-duga Pak Sujito berkata, “Intan dan Putri silakan pilih untuk bergabung dengan kelompok Arga atau Dewi. Tidak masalah ada dua kelompok dengan lima anggota.” “Arga atau Dewi,” batin Intan. “Di kelompok Dewi sudah ada 4 siswa dan mereka adalah siswa-siswa yang rajin dan pandai, pasti akan sangat menguntungkan jika bergabung dengan mereka. Tapi di tempat lain, di kelompok Arga, ada Satria yang sedang tersenyum manis sekali, betapa senangnya hati ini bila bisa menatap dia dari dekat,” Intan berkata pada dirinya sendiri dalam diam. “Mana yang harus ku pilih? Kelompok Dewi yang pandai atau dekat Satria yang membuatku berdebar-debar. Aku mungkin akan mendapat nilai bagus jika bekerja kelompok dengan Dewi, Sinta, Ardi dan Joni tapi ini kan kesempatan langka bisa duduk dengan Satria yang mungkin hanya sepersekian ratus bisa terjadi lagi,” batin Intan terus menimbang. “Baiklah aku memilih Satria saja.” Tapi Putri telah duduk diantara Rani dan Satria. Terlambat. Intan tidak sedih akan hal itu, dia hanya tersenyum, menertawakan pikirannya yang konyol beberapa waktu yang lalu.
            Perasaan itu tidak berkurang sedikitpun, Intan hanya butuh melihat dan ada di sekitar orang yang dia sukai untuk membuatnya bahagia. Perasaan yang begitu sederhana untuk seorang gadis remaja. Hingga akhirnya, dekat saja tidak cukup untuk Intan. Hingga dekat saja mampu membuat matanya kabur akan tangis. Saat itu adalah saat mereka kelas 3 dan Satria telah mempunyai Dini sebagai orang yang mampu membuatnya bahagia. Kata olok-olokan teman, mereka resmi pacaran.
            Mungkin Cupid memanah jantung Intan dengan mata panah dari jantung Satria tapi Cupid tidak memanah Satria dengan anak panah dari jantungnya. Panah Dini telah menancap di dada Satria dan Cupid memanah Dini juga, meninggalkan Intan dengan segunung perasaan getir. Getir adalah kata yang tepat untuk 1 ton cemburu yang diredam dengan sepotong senyum penghibur lara. Intan menghabiskan satu tahun terakhirnya di bangku lanjutan pertama itu dengan segunung kegetiran dalam hatinya.
            Hingga kelulusan sekolah tiba Intan masih menyimpan rasa itu sendiri. Dia mungkin tidak berharap banyak tapi apa daya ketika senyum dan tawa Satria masih tetap membuatnya bergetar. Bukankah dari awal memang hanya itu saja yang membuat Intan bahagia. Dia menolak mengatakan dirinya jatuh cinta waktu itu. Tuhan mungkin sedang menggodanya, melihat namanya ada di bawah peringkat kelulusan Satria benar-benar membuat Intan meledak dalam kesenangan aneh. Satria nomor 10 dan dia berada di peringkat 11 sekolah. Meninggalkan Dini di nomor 20 adalah anugerah yang pantas dia dapat karena telah begitu sabar menghadapi semua perasaan tak terungkapnya. Mungkin saja ini yang namanya pembalasan rasa akan kekalahannya terhadap Dini. Dia puas dengan alasan yang tidak begitu jelas tapi dia cukup senang. “Tan, kamu rangking 11, aku 1 poin di atasmu haha. Tapi selamat ya. Kamu memang selalu dekat-dekat dengan rangking ku dari dulu,” tanpa diduga Satria berkata seperti itu pada Intan. Dalam himpitan siswa yang saling berjejal membaca pengumuman, Intan merasa tangannya diraih dan ditarik seseorang. “Sudah lihatkan? Ayo minggir saja dari pada kegencet teman-teman,” orang itu adalah Satria lagi. Apa ini? Kenapa Intan begitu senang. Karena peringkat kelulusannya atau karena tiba-tiba Satria begitu dekat dengannya. Intan hanya bilang, “Selamat Sat. Kita sudah lulus.” Kita? Kita? Kita ….. “Hai Din, 20 besar gak buruk. Selamat ya kita lulus. Kita jadikan ke SMA 1?” suara Satria memecah euphoria kurang ajar dalam pikiran intan. Dia mendengar kata ‘kita’ dari mulut Satria tapi itu bukan Satria dan Intan, itu Satria dan Dini. Intan menjauh dan bergabung dengan teman-temannya yang lain. Dia tidak pantas menangis cemburu melihat dan mendengar Satria membuat rencana masa depannya dengan Dini. Hari ini terlalu berharga untuk sebuah pikiran yang bodoh apa lagi menangis konyol. “SMA 1. Aku juga akan kesana.”
            Waktu, tempat dan orang bisa berubah dan pasti akan berubah tapi perasaan Intan tentang sosok Satria belum juga berubah. Waktu telah membawanya setahun lebih tua, dan tempat telah memisahkan jarak kursinya beberapa puluh meter dari Satria. Selain itu, Novan juga telah menemaninya selama setahun belakangan. Novan yang senyumnya tidak semanis senyum Satria, Novan yang sikapnya tak selembut sikap Satria, Novan yang tak sepintar Satria. Tapi dia adalah Novan yang terus keras kepala untuk mendekatinya meski Intan tak acuh padanya. Novan yang mengajak Intan melihat dunia baru dan Novan yang akhirnya menjadi kekasih Intan tanpa tahu bagaimanan sejatinya perasaan Intan padanya. Mungkin kali ini Cupid hanya memanah jantung Novan. Cupid yang semakin lama semakin terbukti tak berperasaan.
            Dunia ini adalah tempat dimana dunia-dunia lain berada. Di dunia ini ada dunia percintaan yang begitu sulit dipahami. Di dunia ini juga ada dunia mistis yang begitu misterius. Dan di dunia ini ada dunia Intan dan Novan serta dunia khayal Intan dan Satria. Dunia Intan dan Novan adalah dunia cinta palsu yang dipertahankan. Cinta palsu yang suatu saat mungkin juga akan berubah menjadi cinta yang sebenarnya.
            Novan adalah lelaki yang sangat menyukai dunia tari Jaranan atau sering disebut Kuda Lumping. Tari yang mempunyai aura mistis di tiap gerakannya dan ritual-ritualnya. Entah bagaimana awalnya, Intan pun ikut serta di dalamnya. Dia menjadi salah satu penari kuda lumping di ekskul sekolahnya. Intan tidak menyadari bahwa keikut sertaanya di ekskul tari ini akan merubah sesuatu dalam sejarah hidupnya. Dia selalu datang dan berlatih bersama Novan di sekolah. Novan sendiri adalah sosok yang begitu serius di bidang ini. Novan adalah ketua kuda lumping di sekolah mereka. Kecintaannya akan kuda lumping membawanya menjadi penari yang handal yang mampu menebar pesona mistis pada para penontonnya, tak terkecuali Dini. Dini sering mengajak Satria untuk bergabung dengan kelompok tari ini tapi dia menolak. Satria hanya mengantar Dini melihat latihan tari anak-anak ekskul kuda lumping. Di antara penari-penari itu ada Intan yang gerakannya semakin hari semakin seperti penari yang kerasukan. Hingga suatu hari hal yang tak terduga terjadi.
            Hari itu adalah Jumat sore. Anak-anak ekskul kuda lumping mulai berlatih pada pukul 3. Novan, Intan dan yang lainnya telah bersiap untuk latihan sore itu. Sebuah lomba Jaranan tingkat kabupaten akan diadakan bulan depan. Mereka akan tampil mewakili sekolah mereka, unjuk kebolehan untuk suatu predikat grup Jaranan terbaik tingkat kabupaten kota. Latihan telah berlangsung selama setengah jam ketika Intan melihat Satria datang bergandengan tangan dengan Dini. Satria tampak begitu bahagia, dia tertawa dan sesekali mengangguk-angguk. Dini juga tampak bahagia. Dia tersenyum manis, tangannya menggenggam erat tangan kekasihnya. Intan ingat bagaimana rasanya ketika setahun lalu Satria mengandeng tangannya dan menariknya keluar dari kerumunan anak-anak SMP. Tangan yang hangat, tangan yang mampu membuat Intan merinding tak mampu berkata-kata. Perasaan yang terlalu berlebihan untuk sebuah sentuhan yang sangat singkat waktu itu. “Tan, yang serius dong. Kok tiba-tiba gak konsen? Kamu capek ya?” pertanyaan Novan membawanya kembali ke dunia nyata. “Eh.. eh.. enggak. Maaf ya. Cuma kepikiran sesuatu saja.” “Kalau tidak enak badan bilang ya. Kamu bisa istirahat dulu hari ini.” “Aku tidak apa-apa. Mari kita lanjutkan lagi,” Intan menenangkan Novan.
            Intan memang kembali menari tetapi sudut matanya tak pernah lepas dari Satria dan Dini. Perasaan cemburu tiba-tiba muncul di hatinya. Kemarahan mulai menguasai tiap gerakannya. Suara gamelan yang ditabuh untuk mengiringi tarian mereka terasa menghentak-hentak di dalam kepala dan dadanya. Lalu kejadian itu membuat kesadarannya hilang. Saat Dini memandang kearah lain, Satria meletakkan ujung jarinya di dekat pipi Dini lalu dia memanggil gadis itu. Dini menoleh dan telunjuk Satria menekan pipi Dini. Dini berteriak kecil lalu pura-pura marah memukul-mukul tangan Satria. Lalu Satria merangkul Dini menenangkannya. Hal itu seakan menyulut sumbu cemburu dan sakit hati di diri Intan. Perasaan sakit dan marah yang mengiris-iris hatinya membuat matanya mendelik lalu hawa panas itu merasuk lewat telinganya. Sesaat setelah itu dia telah menjerit, “Aaaaaa aaaa arrgh… ha ha ha.” Intan kesurupan.
            Intan roboh di tanah berumput. Tangannya menegang, jari-jarinya melengkung seperti cakar binatang buas. Matanya melotot dan dadanya naik turun seperti orang sesak napas. Novan segera berlari menghampirinya. Baginya, hal seperti ini bukan hal yang baru di kesenian tari kuda lumpingnya. Tetapi apa yang dialami intan berbeda. Biasanya yang kerasukan saat menari akan tetap menari bahkan gerakannya akan semakin menghebat, tapi tidak dengan Intan. Dia roboh dengan kondisi yang memilukan. Dia seperti mau menangis tapi dia juga mengeluarkan suara geraman orang yang marah. Suasana menjadi kacau. Satria kaget sekali melihat Intan yang begitu berbeda. Dia memang tidak suka melihat teman perempuannya itu ikut ekskul ini. Tapi demi Dini yang begitu tertarik dengan tari Jaranan, dia rela menemaninya melihat latihan-latihan mereka. Dini ketakutan. Dia mencengkeram lengan Satria.
            Novan dan guru tari mereka mencoba mengangkat Intan ke tempat yang lebih teduh tapi Intan berontak. Kekuatannya seolah-olah telah bertambah berlipat-lipat. Mereka tidak mampu mengangkat Intan. Satria dan Dini berjalan mendekat untuk melihat keadaan Intan. Mereka berdua tampak tegang dan was-was. Melihat Intan yang nafasnya semakin tersengal-sengal dan tangannya yang terentang kaku membuat Satria khawatir akan keselamatan temannya itu. Lalu tiba-tiba intan memandangnya. Lalu kearah Dini. Dini menjerit ketika matanya saling bertemu dengan Intan. Tanpa diduga, Intan bangkit lalu menerjang kearah Dini. Satria menghalangi dengan tubuhnya. Intan tetap menerjang, dia merangkul tubuh Satria dari depan dan mencengkeram badan Dini yang berada di belakang. Satria yang berada diantara dua gadis ini kebingungan. Dia memegang bahu Intan lalu mengguncangnya, “Tan, Intan, sadar Tan. Sadar Tan. Kamu menakutiku. Kenapa Tan? Jangan sakiti Dini.”
            Dini yang dicengkeram Intan dari balik tubuh Satria tiba-tiba lemas. Dia roboh. Matanya melotot, tangannya terentang dengan jari-jari melengkung seperti cakar. Dini kerasukan. Novan mendekati Dini. Dia memegang tangan Dini, meluruskannya dan melemaskan jari-jari Dini yang melengkung. Dirapalnya mantra khusus untuk mengusir setan yang merasuk ke dalam tubuh Dini, dibisikkannya mantra itu ke telinga Dini lalu ditekan telapak tangannya. Novan melakukan gerakkan seolah-olah menarik sesuatu dari tangan tersebut tapi lagi-lagi hal aneh terjadi. Novan terlempar ke belakang, sebuah kekuatan yang tak terlihat mendorong tubuh Novan menjauh dari Dini dan Intan.
            Di samping Dini, Satria masih dicengkeram oleh Intan. Tubuh kaku intan seolah-olah enggan lepas dari tubuh Satria. Pemandangan itu sangat kontras dengan keadaan sekitarnya jika dilihat dari jarak agak jauh. Orang-orang akan mengira bahwa Intan sedang menangis dalam pelukan Satria. Tapi memang itulah yang terjadi saat ini. Perlahan tubuh Intan melemas, dia melepas pelukannya pada Satria lalu dia terduduk lemas. Satria merebahakan Intan ke tanah. Intan masih tak sadarkan diri, matanya setengah terbuka setengah terpejam dan nafasnya kembali sesak. Paru-parunya tampak kesulitan menyedot udara sehingga tiap kali dia menarik nafas dadanya terangkat. Keadaan Dini tidak lebih baik, dia juga tampak sesak dan tubuhnya mengejang. Satria benar-benar tak berdaya melihat kekasih dan temannya ini tampak begitu menderita. Untungnya guru tari yang dibantu tetua desa yang tinggal dekat sekolah akhirnya mampu menyadarkan mereka berdua.
            Intan dan Dini terbaring di ranjang UKS, mereka tertidur karena lemas. Satria dan Novan duduk di samping ranjang mereka. Beberapa menit kemudian Intan siuman. “Tan, bagaimana keadaanmu?” Novan bertanya sambil memegang tangan Intan. Intan tak menjawab dan dia menarik tangannya dari  genggaman Novan. Intan membuang mukanya ke samping dan dilihatnya Satria duduk disana membelakanginya. Intan menggerakkan tangan kirinya lalu menyentuh punggung Satria. Dia menoleh, “Kamu sudah sadar Tan? Kamu sudah tidak apa-apakan?” Sebuah senyum manis yang selalu Intan impikan sekarang ada di depannya. Intan berkata dengan lemah, “Maafkan aku Sat, maafkan aku. Aku telah menyakiti kamu dan Dini.” Kini air mata mulai merebak di matanya. Novan yang merasa bingung dan tidak dipedulikan hanya diam memandang Intan dan Satria. “Ya aku tahu Tan, kamu kan tadi tidak sadar. Tapi kenapa kamu bilang seperti ini?” “Aku masih setengah sadar Sat. aku bisa mendengar kamu berteriak padaku tadi. Aku tidak sanggup melihat kalian tadi. Maafkan aku.” Tangis Intan semakin menjadi-jadi. Novan memegang bahu Intan, “Sudah Tan, mari aku antar kamu pulang saja.” “Tidak Van. Tidak,” kata Intan. Satria yang tidak mengerti maksud perkataan Intan tadi kini bertanya, “Apa maksudmu Tan? Kenapa kamu tidak sanggup melihatku? Kalau aku ada salah tolong katakan padaku biar aku bisa meminta maaf kepadamu.” “Tidak Sat, bukan aku tidak tahan melihatmu tapi aku tidak bisa melihat kamu dan Dini begitu dekat, begitu bahagia. Maafkan aku Sat, aku memang tidak berhak berbuat begini tapi aku menyukaimu sejak kita menjadi teman sekelas dahulu.” Satria terkejut bukan main mendengar pengakuan Intan. Novan tak kalah terkejut. Dia merasa tak mendapat tempat di hati Intan. Mungkin selama ini dia memang telah memaksa Intan untuk menjadi kekasihnya tetapi kejadian ini juga memukul harga dirinya. “Tan kamu.. kamu selama ini tidak menganggapku sebagai ..” kalimat Novan terpotong oleh suara tangis Intan yang semakin keras. “Maafkan aku Van, aku tidak bisa,” suara Intan terpotong-potong karena tangisnya mencoba menjawab pertanyaan Novan. Lalu Satria berkata, “Tan, aku tidak pernah tahu kamu mempunyai perasaan seperti itu kepadaku. Tapi aku sudah ada Dini dan kamu ada Novan. Ini semua tidak benar-benar terjadi kan?” Novan berdiri dan berjalan keluar UKS. Dia merasa seperti makhluk paling tak berguna saat itu. “Aku tahu Sat, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku” kata Intan. “Coba aku tahu hal ini dari dulu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Mungkin aku bisa menjaga perasaanmu.” “Jadi kamu memang tidak punya perasaan apa-apa kepadaku ya Sat?” kata Intan. Dia sudah lupa akan perasaan malu atau apapun itu. Semua sudah terlanjur terjadi dan dia ingin Satria tahu bagaimana perasaannya meskipun itu berarti melukai Novan ataupun Dini. “Tan, aku.. aku selalu menganggapmu sebagai temanku yang pintar dan manis,” kata Satria sambil menggenggam tangan Intan untuk menguatkan. “Kamu cantik Tan, kenapa kamu harus selalu melihatku selama ini. Ada banyak cowok yang baik dan menyukai kamu. Itu pasti. Bukan aku tidak menyukaimu Tan tapi kamu tahukan hidupku yang sekarang bukan hanya milikku sendiri, sudah ada Dini yang harus aku sayangi karena dia juga menyayangiku. Maafkan aku, Tan. Aku tidak bisa.” “Iya sat.”
            Air mata baru meleleh panas di pipi Intan yang sudah basah. Dia melihat lagi punggung Satria. Lelaki itu membantu Dini bangun. Lelaki yang dia sukai sejak tiga tahun lalu itu berdiri menuntun kekasihnya keluar. Intan bangun dari tempat tidur kecil itu. Disentuhnya dada dimana tempat jantungnya berdetak. Sambil meringis kesakitan, digenggamnya erat-erat benda itu. Dengan sekuat tenaga dicabutnya benda tersebut keluar dari jantungnya lalu dia lemparkan ke lantai. Anak panah Cupid bermata hati itu kini perlahan-lahan hilang memudar dari pandangannya. “Aku salah jika terus mencintaimu.”

Supra D’ocean (24 Pebruari 2013)